Banda Aceh, InfoPublik – PT Hutama Karya (Persero) terus mempercepat penanganan sejumlah ruas jalan terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh untuk memperkuat konektivitas wilayah dan mendukung kelancaran mobilitas masyarakat.
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan percepatan penanganan infrastruktur tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pemerintah memulihkan wilayah terdampak bencana melalui pembangunan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan.
"Melalui berbagai proyek penanganan tanggap darurat di Sumatra, kami berharap konektivitas masyarakat dapat segera pulih serta memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap risiko bencana di masa mendatang," ujar Hamdani, Senin (20/7/2026).
Di Aceh, Hutama Karya saat ini menangani proyek tanggap darurat pada Ruas PPK 3.3 Aceh, Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, serta Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane.
"Penanganan meliputi pembangunan dinding penahan tanah, box culvert, buis beton, bored pile, jembatan rangka baja, hingga perlindungan lereng pada sejumlah titik longsor dan kerusakan jalan," jelasnya.
Pada Ruas PPK 3.3 Aceh, progres pekerjaan hingga Juni 2026 telah mencapai 30,46 persen. Penanganan dilakukan di 26 titik longsor dan dua titik jembatan. Sejumlah titik prioritas telah selesai dan berfungsi, sementara titik lainnya ditargetkan dapat difungsikan secara bertahap pada Agustus 2026.
Sementara itu, penanganan pada Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren telah mencapai progres 22,41 persen hingga Juni 2026. Pekerjaan dilakukan di 23 titik yang tersebar pada ruas Aceh Tengah–Blangkejeren dan Blangkejeren–Aceh Tenggara, meliputi pemasangan buis beton, beton siklop, dinding penahan tanah, serta timbunan pilihan untuk memperkuat badan jalan dan lereng di kawasan rawan longsor. "Beberapa titik prioritas, seperti Palok dan Ramung, ditargetkan mulai difungsikan pada Agustus 2026," tuturnya.
Adapun pada Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane, progres pekerjaan hingga pekan kedua Juli 2026 telah mencapai 43 persen. Penanganan dilakukan pada enam titik yang terdiri atas dua jembatan dan empat titik longsor, termasuk Jembatan Lawe Mengkudu yang menjadi salah satu fokus utama.
"Hingga saat ini, sejumlah pekerjaan utama seperti box culvert, soldier pile, bored pile, dinding penahan tanah, serta timbunan telah menunjukkan progres sesuai tahapan pelaksanaan," kata Hamdani.
Hamdani menyampaikan, berbagai proyek tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan infrastruktur terdampak bencana, tetapi juga meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar distribusi logistik, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, serta memperkuat ketahanan jaringan transportasi terhadap risiko bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
"Hutama Karya akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan infrastruktur yang berkualitas, tangguh terhadap bencana, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tutupnya.