Raja Ampat, InfoPublik — Dua agenda besar Kabupaten Raja Ampat, yakni Festival Pesona Raja Ampat dan Festival Gemarikan 2025, resmi ditutup di Pelataran Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat Daya, pada Selasa (21/10/2025). Kedua festival tersebut telah berlangsung selama empat hari, sejak 18 hingga 21 Oktober 2025, dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang memadukan unsur budaya, pariwisata, dan edukasi perikanan.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat sekaligus Ketua Panitia Festival Pesona Raja Ampat 2025, Ellen Risamasu, menyampaikan bahwa festival tahun ini mengusung tema besar “Harmoni Biru: Merajut Pusaka, Menjaga Surga, Meraih Sejahtera" yang menggambarkan keselarasan antara ekosistem laut dan langit sebagai fondasi kehidupan masyarakat Raja Ampat.
“Melalui tema ini, kita berupaya ‘Merajut Pusaka’ dengan melestarikan warisan budaya dan kearifan lokal, ‘Menjaga Surga’ dengan melindungi alam Raja Ampat yang menjadi anugerah luar biasa, serta ‘Meraih Sejahtera’ dengan mendorong ekonomi biru yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ellen Risamasu.
Selama pelaksanaan festival, berbagai kegiatan seni, budaya, dan atraksi wisata turut memeriahkan suasana, seperti Lomba Perahu Hias, Tari Kreasi, Fashion Show Daur Ulang, hingga pameran UMKM lokal. Semua kegiatan mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan wisatawan yang memadati area Pantai WTC.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt). Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat sekaligus Ketua Panitia Festival Gemarikan 2025, Josep Mirino, menjelaskan, kegiatan festival Gemarikan tahun ini berfokus pada edukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan sebagai sumber protein utama.
“Melalui berbagai lomba seperti mewarnai, goyang Gemarikan, demo masak olahan ikan, hingga cerdas cermat, kami ingin memberikan edukasi gizi kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan. Hasilnya, terjadi peningkatan pemahaman dan minat masyarakat, terutama anak-anak, terhadap manfaat konsumsi ikan untuk kesehatan. Ini merupakan langkah nyata menuju Generasi Emas Indonesia 2045,” jelasnya.
Penutupan resmi kedua festival dilakukan oleh Wakil Bupati Raja Ampat, Mansyur Syahdan, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam dan budaya Raja Ampat.
“Festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan komitmen berkelanjutan dalam menjaga dan melestarikan pariwisata Raja Ampat, serta mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya alam dan budaya. Melalui sinergi antara sektor pariwisata dan perikanan, kita ingin menjadikan Raja Ampat sebagai model pembangunan daerah yang berkelanjutan,” tegas Wakil Bupati.
Dengan berakhirnya kedua festival tersebut, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berharap semangat harmoni antara budaya, alam, dan masyarakat terus terjaga sebagai kekuatan utama menuju masa depan Raja Ampat yang sejahtera dan berkelanjutan.
(Penta Nila Juwita/MC.Kab.Raja Ampat)