DP3AKB Sosialisasikan Mace Sigap Cegah Stunting di Raja Ampat
Raja Ampat, InfoPublik- Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Raja Ampat menggelar sosialiasi terkait Mace Sigap yang brlangsung di ruang rapat DP3AKB, Kompleks Kantor Bupati Raja Ampat, Senin, (21/8/2023).
Mace Sigap merupakan akronomi dari Makanan Sehat, Anak Cerdas, Ibu Siap Cegah Stunting di Raja Ampat.
Mace Sigap merupakan proyek perubahan Kepala DP3AKB Raja Ampat, Atika Rumadaul, A.MK.S.Kep yang mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat III Kerja Pemda Raja Ampat dengan Lembaga Administrasi Negara RI-Makasar.
Sosialisasi yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana tersebut dihadiri Asisten I Setda Raja Ampat, Drs. Mansur Syahdan, Kepala Dinas Kesehatan Raja Ampat, Rahman Putra, M.Kes, Kepala Distrik Kota Waisai, Alfres Suruan, Ketua Ikatan Dokter (IDI) Raja Ampat, dr. Uli Simanjuntak dan pejabat perwakilan pimpinan OPD di Raja Ampat.
Ati, sapaan Atika Rumadoul dalam paparannya menjelaskan kata, ‘Mace” berasal dari kata Papua ang artinya perempuan atau ibu atau mama. Diakuinya proyek perubahan ini didasarkan pada Peraturan Bupati Nomor 12 Tahun 2021 terkait percepatan penanganan stunting di Raja Ampat.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Pusat menargetkan pada tahun 2024, prevelensi stunting di Indonesia harus berada pada 14 %.
Sementara saat ini, data menunjukan prevelensi stunting di Raja Ampat, Papua Barat Daya masih jauh sebagaimana yang ditargetkan nasional. Dimana secara data, pada Februari 2021 angka stunting di Raja Ampat sebesar 31 % dan pada Februari 2022, mengalami penurunan dan berada pada angka 26 %.
Ati, sapaan Atika Rumadaul menjelaskan menekan prevelensi stunting di Raja Ampat tidak saja menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggungjawab seluruh komponen masyarakat, termasuk kaum ibu.
“Perempuan atau ibu yang siap dalam pemenuhan gizi bagi anak berbasis bahan pangan lokal,” jelasnya.
Caranya, kata Ati melatih ibu-ibu untuk peningkatan perempuan dari sisi ekonomi dengan melatih ibu-ibu dengan berbagai keterampilan.
“berdasarkan data EPPGM pada tahun 2022 sebanyak 2.239 balita yang terdeteksi stunting Sebagian besar dimana 585 balita terpapar stunting atau 26, 13 % yang tersebar di 12 lokus,” papar Ati.
Dijelaskannya searah dengan program nasional dan daerah, maka program DP3AKB Raja Ampat ditujukan kepada perempuan yang memiliki balita beresiko stunting.
“Jadi proyek perubahan bertujuan terwujudnya program pemberdayaan perempuan berupa pengelolaan bahan pangan lokal menjadi makanan sehat untuk balita stunting seperti sagu, ikan siput untuk menurunkan stunting pada dua lokus,” ujarnya.
Ada dua lokus dimaksud adalah distrik Kota Waisai dan Distrikk Teluk Mayalibit.
Inovasi Mace Sigap ini mendapat dukungan dari peserta sosialisasi. Asisten I Setda Raja Ampat, Mansur Syahdan menjelaskan inovasi tersebut penting dilakukan dalam mengatasi masalah stunting di Raja Ampat. Dirinya berharap apa yang menjadi program DP3AKB tersebut mendapat dukungan kebijakan anggaran dari pemerintah daerah.
Sementara itu, Ketua IDI Cabang Raja Ampat, dr. Uli Simanjuntak mengakui memanfaatkan bahan pangan lokal sangat baik untuk menekan prevelensi stunting. Dr. Ulli yang merupakan ahli gizi tersebut mengakui kandungan nutrisi dalam sagu sangat kayak sehingga dirinya mengakui inovasi DP3AKB tersebut sangat urgent mengatasi stunting di Raja Ampat. (Petrus Rabu/MC.Kab. Raja Ampat)
© Copyright 2026, All Rights Reserved