Jakarta, InfoPublik - Pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya membutuhkan perangkat lunak dan pusat data, tetapi juga fondasi material berupa mineral kritis, terutama nikel dan tembaga. Karena itu, hilirisasi mineral Indonesia perlu diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menghubungkan kekuatan sektor mineral dengan kebutuhan pengembangan infrastruktur AI dan ekonomi digital.
“Jika dunia meminta Indonesia menyediakan bahan baku bagi transisi energi dan transisi digital, Indonesia harus memastikan bahwa rantai nilai tersebut berkelanjutan bagi kedua belah pihak,” ujar Nezar dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Menurut Nezar, nikel dan tembaga bukan sekadar komoditas pertambangan. Keduanya merupakan bagian penting dari ekosistem infrastruktur AI, mulai dari baterai, peralatan kelistrikan, jaringan transmisi, hingga sistem pendukung ketahanan pusat data.
Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral global. Dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi tambang nikel dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat peran dalam rantai nilai teknologi global.
Namun, posisi tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memastikan kegiatan pengolahan mineral memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial.
“Hilirisasi harus berarti lebih dari sekadar melakukan pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Hilirisasi harus mencakup peningkatan kinerja lingkungan, penguatan ketertelusuran, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta perhatian serius terhadap limbah, air, dan dampak terhadap masyarakat,” tegasnya.
Nezar menjelaskan pembangunan pusat data sebagai salah satu fondasi pengembangan AI juga membutuhkan berbagai komponen pendukung, seperti pasokan listrik, jaringan serat optik, lahan, sistem pendingin, cip, tenaga ahli, serta tata kelola yang bertanggung jawab.
Karena itu, pengembangan AI tidak dapat dipandang semata-mata sebagai agenda digital. Pengembangannya berkaitan erat dengan kebijakan energi, industri, pembiayaan, dan lingkungan.
Indonesia, lanjut Nezar, memiliki peluang untuk menjadi pusat AI regional berkat posisi geografis yang strategis, pertumbuhan ekonomi digital, serta ketersediaan talenta digital. Peluang tersebut perlu diikuti kesiapan infrastruktur dan kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
"Kita harus mengubah pertumbuhan ini menjadi penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, penguatan kapabilitas dalam negeri, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.