Jakarta, InfoPublik – Sekolah tidak hanya menjadi tempat murid memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk belajar hidup bersama di tengah keberagaman. Di ruang kelas dan lingkungan sekolah, murid belajar menghargai perbedaan, mendengarkan orang lain, serta membangun kerja sama.
Karena itu, keteladanan guru menjadi salah satu kunci dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, guru memiliki peran lebih luas dari sekadar menyampaikan materi pembelajaran, yakni membentuk karakter dan membangun peradaban. “Guru adalah agent of learning as well as agent of civilization,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Selasa (6/11/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan membangun manusia yang mampu hidup bersama dengan orang lain. Karena itu, guru perlu menunjukkan keteladanan dalam menghargai perbedaan yang kemudian dapat ditiru murid dalam kehidupan sehari-hari. “Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” katanya.
Ia menjelaskan, sekolah merupakan ruang perjumpaan yang mempertemukan murid dengan beragam latar belakang. Interaksi tersebut perlu dimanfaatkan untuk menumbuhkan kemampuan murid mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan orang yang memiliki keyakinan, budaya, maupun pandangan berbeda.
Abdul Mu’ti menekankan, toleransi yang dibangun di sekolah bukan berarti menghilangkan keyakinan masing-masing. Sebaliknya, setiap murid tetap dapat teguh pada keyakinannya sekaligus menghormati dan memberikan ruang bagi orang lain. “Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.
Mendikdasmen menambahkan, lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Keamanan juga mencakup aspek sosial, spiritual, dan digital yang semakin penting seiring meningkatnya aktivitas anak di ruang digital.
Karena itu, upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga, masyarakat, dan media juga memiliki peran karena pembentukan karakter murid berlangsung tidak hanya ketika mereka berada di lingkungan sekolah.
Arah tersebut sejalan dengan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026. Kebijakan ini menekankan pencegahan serta keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan murid.
Kepala Puspeka Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami mengatakan, murid perlu ditempatkan sebagai bagian aktif dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, bukan hanya sebagai penerima manfaat kebijakan. Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi “Sahabat Hebat” yang mampu memberikan dukungan kepada teman melalui prinsip Look, Listen, and Link. Prinsip tersebut mengajak murid peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan persoalannya, kemudian menghubungkannya dengan bantuan yang tepat.
“Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.
Pentingnya relasi antarmanusia dalam pendidikan juga disoroti Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho. Menurut dia, perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak boleh membuat pendidikan kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Pendidikan tetap harus membantu murid membangun hubungan dengan sesama, termasuk dengan mereka yang memiliki agama, kepercayaan, dan budaya berbeda.“Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” kata Matius.
Ia menilai keberhasilan guru dalam membangun karakter murid juga membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas. Kolaborasi antara sekolah, masyarakat, serta pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat memperoleh penguatan di lingkungan kehidupan sehari-hari.
Dalam lima tahun terakhir, Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra lintas agama telah menjalankan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik lainnya di 38 provinsi. Pendekatan tersebut juga dikembangkan melalui kerja sama dengan Kemendikdasmen dan pemerintah daerah untuk mendukung penguatan BSAN.
Sementara itu, Chief of Education UNESCO Jakarta Santosh Khatri menilai sekolah yang aman dan nyaman harus berjalan beriringan dengan lingkungan profesional yang mendukung guru.
Menurutnya, budaya sekolah bukan sekadar kondisi pendukung proses belajar, tetapi merupakan bagian dari pengalaman pendidikan itu sendiri. Melalui lingkungan yang aman, murid dapat mengembangkan empati dan kemampuan hidup bersama.
Di tengah pemanfaatan AI dalam pendidikan, teknologi dapat membantu guru dalam perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional. Namun, kemampuan memahami kondisi murid tetap membutuhkan peran manusia.
Guru, kata Khatri, tetap memiliki posisi penting untuk mengenali kesulitan yang mungkin belum mampu diungkapkan murid serta membimbing mereka belajar mendengarkan dan menghormati orang lain.
Pengalaman membangun interaksi lintas agama di lingkungan sekolah turut dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal. Ia menyoroti tantangan sekolah berbasis agama yang lingkungan pendidikannya cenderung homogen. Keterbatasan perjumpaan dengan kelompok yang berbeda dapat membuat pengalaman murid mengenai keberagaman menjadi terbatas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Sekolah Kristen Tritunggal mengembangkan kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman, termasuk kunjungan persahabatan lintas agama.
Salah satunya melalui kunjungan murid SMA Tritunggal Semarang ke MA Al Manar Tengaran dan Pondok Pesantren Amal Sholeh. Perjumpaan tersebut menjadi sarana bagi murid untuk mengenal kehidupan kelompok lain secara langsung sekaligus membangun rasa percaya. “Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan.
Kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan tersebut kemudian memperluas jaringan kerja sama dan kesempatan interaksi antarmurid. Dari proses itu, sekolah melihat tumbuhnya rasa aman, nyaman, dan kepercayaan diri murid dalam berkolaborasi lintas agama.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keberagaman tidak cukup berhenti pada pengetahuan mengenai toleransi. Nilai tersebut perlu dihadirkan melalui pengalaman nyata, keteladanan guru, dan relasi yang memungkinkan murid berinteraksi langsung dengan perbedaan.