Suharti: Peran Indonesia di UNESCO Bidang Pendidikan Makin Kuat
Plang informasi Utamakan Bahasa Indonesia di Yogyakarta. (Istimewa)
Plang informasi Utamakan Bahasa Indonesia di Yogyakarta. (Istimewa)
Jakarta, InfoPublik – Peran Indonesia dalam agenda pendidikan UNESCO semakin menguat, ditandai dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam Sidang Umum UNESCO, masuknya kebijakan pemerataan pendidikan Indonesia dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2026, hingga program pengembangan guru yang masuk 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Sekjen Kemendikdasmen) Suharti menyampaikan sejumlah capaian tersebut dalam Sidang Pleno Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) 2026 di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Menurut Suharti, keterlibatan Indonesia dalam agenda UNESCO tidak hanya menunjukkan pengakuan internasional, tetapi juga menjadi ruang untuk membawa praktik pendidikan nasional ke forum global sekaligus menyelaraskannya dengan agenda pendidikan berkelanjutan. Salah satu capaian yang disoroti adalah perkembangan akses dan pemerataan pendidikan dalam satu dekade terakhir.
Data Kemendikdasmen menunjukkan tingkat penyelesaian pendidikan SMA/sederajat meningkat dari 52 persen pada 2015 menjadi 73,9 persen pada 2025. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/sederajat juga naik dari 78 persen menjadi 89,5 persen. Perkembangan turut terlihat pada kelompok 20 persen rumah tangga termiskin. APK SMA/sederajat pada kelompok tersebut meningkat dari 59,7 persen pada 2015 menjadi 82,6 persen pada 2025.
Capaian tersebut menjadi bagian dari praktik Indonesia yang dibahas dalam GEM Report 2026 bertema Access and Equity: Countdown to 2030. Sejumlah kebijakan Indonesia yang diangkat antara lain penguatan tata kelola pendidikan di daerah dan sekolah, sistem penerimaan murid baru, Program Indonesia Pintar, serta Bantuan Operasional Sekolah.
Di sisi lain, rata-rata lama sekolah penduduk meningkat dari 8,32 tahun pada 2015 menjadi 9,41 tahun pada 2025. Partisipasi murid kelas 1 SD/MI/sederajat yang sebelumnya mengikuti PAUD juga meningkat dari 57,8 persen menjadi 66,2 persen.
Suharti juga menungungkapkan, penguatan diplomasi pendidikan juga ditandai dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam Pernyataan Nasional pada Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, November 2025. "Penggunaan tersebut menjadi yang pertama sejak bahasa Indonesia ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 2023. Naskah dan arsip pidato tersebut kemudian diserahterimakan untuk disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)," terangnya.
Kemendikdasmen juga tengah menyiapkan usulan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028 sebagai Perayaan UNESCO dengan tema The Centenary of the Youth Pledge: One Homeland, One Nation, One Language for Peace, Unity, and Diversity.
Badan Bahasa telah menyiapkan naskah akademik, narasi kebahasaan, dan program diplomasi bahasa. Formulir usulan juga telah direvisi bersama Kementerian Luar Negeri dan selanjutnya akan mengikuti siklus pengajuan melalui Dewan Eksekutif dan Sidang Umum UNESCO.
Pada agenda pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD), Indonesia menempatkan Pembelajaran Mendalam sebagai salah satu jalur kebijakan.
Implementasinya diperkuat melalui berbagai program yang sudah berjalan. Hingga Juni 2026, terdapat 34.137 sekolah Adiwiyata. Program tersebut mencatat penurunan sampah bulanan di sekolah Adiwiyata sekitar 66 persen.
Kemendikdasmen juga mencatat 133.000 guru dan 52.000 kepala sekolah telah mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam. Selain itu, lebih dari 5.200 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi simpul ESD di luar sekolah. Pendekatan ESD diintegrasikan ke dalam pembelajaran dan budaya sekolah tanpa menambah mata pelajaran baru.
Di bidang guru dan layanan digital, Rumah Pendidikan meraih juara pertama WSIS Prizes 2026 kategori e-Government. Penghargaan yang diberikan International Telecommunication Union (ITU) tersebut dipilih dari 1.596 inovasi digital dari 122 negara.
Sementara itu, Collective Teacher Leadership Development Programme dari Yayasan Guru Belajar yang didukung KNIU masuk sebagai satu dari 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development ke-9. Program tersebut telah menjangkau lebih dari 61.000 guru di 91 kabupaten/kota sejak 2021. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung di Paris pada 5 Oktober 2026.
Penguatan literasi juga menjadi bagian dari keterlibatan Indonesia. Pada peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional 2026, Indonesia mengadaptasi tema global menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” bersama UNESCO Jakarta dan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO.
Ia menjelaskan, ke depan, sejumlah agenda strategis akan menjadi perhatian Indonesia di forum UNESCO. Salah satunya ESD World Conference yang dijadwalkan berlangsung di Nairobi, Kenya, pada 13–15 Januari 2027. Indonesia juga menjajaki peran dalam forum global pendidikan 2027 serta melanjutkan proses pengajuan usulan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda sebagai Perayaan UNESCO.
Suharti menilai agenda tersebut membutuhkan penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga melalui KNIU. Selain memperkuat posisi Indonesia dalam forum internasional, koordinasi tersebut diarahkan untuk memastikan agenda global UNESCO dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik pendidikan di dalam negeri.
Kemendikdasmen juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, antara lain belum meratanya kapasitas guru dan sekolah dalam menerapkan ESD, pemahaman ESD yang masih sering terbatas pada isu lingkungan, serta perlunya memperluas pemantauan indikator SDG 4.7, termasuk pendidikan perdamaian, kewargaan global, kesiapsiagaan bencana, dan perubahan iklim.
Melalui penguatan kerja sama tersebut, agenda pendidikan Indonesia di UNESCO diarahkan tidak berhenti pada diplomasi dan pengakuan internasional, tetapi juga memperkuat praktik pendidikan yang berdampak pada akses, pemerataan, kompetensi guru, literasi, dan keberlanjutan pembelajaran di dalam negeri.