Jakarta, InfoPublik – Kemampuan literasi kini tidak cukup berhenti pada membaca dan menulis. Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi digital, dan kecerdasan artifisial (AI), masyarakat perlu memiliki kemampuan menilai informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta terus belajar sepanjang hayat.
Chief of Education UNESCO Regional Office in Jakarta Santosh Khatri menegaskan perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam memperkuat gerakan literasi global. “Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan terus belajar sepanjang hidup,” ujar Santosh dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 bertema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, Selasa (8/9/2026).
Peringatan tahun ini menjadi istimewa karena menandai 60 tahun Hari Aksara Internasional sejak pertama kali diperingati pada 1966. Menurut Santosh, enam dekade tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dalam literasi global, tetapi masih menyisakan pekerjaan besar.
Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi orang dewasa dunia telah mencapai lebih dari 88 persen, meningkat dibandingkan sekitar 65 persen pada 1975. Namun, pada 2024 masih terdapat sedikitnya 739 juta pemuda dan orang dewasa yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Hampir dua pertiga dari kelompok tersebut merupakan perempuan. “Namun, kemajuan ini belum mencapai semua orang,” katanya.
Tantangan literasi bahkan muncul ketika anak-anak dan orang dewasa telah mendapatkan pendidikan formal. Sebagian masih belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca, sehingga perluasan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hasil belajar.
Menurut Santosh, era digital dan AI menghadirkan peluang baru untuk belajar dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Namun, teknologi juga membawa tantangan baru yang menuntut kecakapan literasi lebih tinggi.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi sebatas apakah seseorang dapat mengakses informasi, tetapi apakah ia mampu menilai informasi tersebut, membedakan informasi yang dapat dipercaya dari misinformasi, serta menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Karena itu, UNESCO mendorong penguatan literasi, termasuk literasi digital dan AI, agar teknologi menjadi instrumen yang memperluas inklusi dan kesempatan belajar, bukan justru memperbesar kesenjangan. Semangat tersebut tercermin dalam tema global Hari Aksara Internasional 2026, Literacy for People, the Planet and Prosperity, yang mengajak dunia melihat literasi melalui tiga dimensi yang saling terhubung.
Dimensi people menempatkan literasi sebagai sarana memperkuat kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi, memahami hak, berkomunikasi, serta mengakses peluang pendidikan dan kehidupan, terutama bagi kelompok yang rentan dan termarginalkan. Dimensi planet mendorong kemampuan memahami persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, sekaligus menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan.
Sementara prosperity mengarahkan literasi untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat untuk belajar, bekerja, membangun kehidupan berkelanjutan, serta mengembangkan peluang ekonomi. “Ketiga dimensi ini saling terhubung. Literasi membantu orang untuk berpartisipasi, beradaptasi, dan berkontribusi,” ujar Santosh.
Santosh menilai agenda global tersebut sangat relevan dengan konteks Indonesia. Ia mengapresiasi kemajuan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan. Berdasarkan data yang disampaikannya, hampir 97 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah mendapatkan pendidikan pada 2024.
Namun, akses pendidikan saja belum memberikan gambaran utuh mengenai kemampuan literasi masyarakat. “Pendidikan sendiri tidak memberikan gambaran lengkap. Kita juga harus mempertimbangkan apakah orang memiliki kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, berpartisipasi di masyarakat, dan terus belajar selama hidup mereka,” katanya.
Ia mencontohkan hasil PISA OECD yang menunjukkan capaian skor siswa Indonesia sebesar 359 poin, masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 476 poin. Kondisi tersebut, menurut Santosh, mengingatkan pentingnya memperkuat kemampuan dasar peserta didik sejak jenjang awal.
Keragaman Indonesia juga menjadi alasan pentingnya membangun literasi yang kontekstual. Pembelajaran perlu mempertimbangkan bahasa, budaya, karakter masyarakat, kehidupan, dan lingkungan tempat peserta didik tumbuh.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi UNESCO mengenai ekosistem pembelajaran sepanjang hayat. Proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan berbagai ruang pembelajaran lainnya. Santosh mengapresiasi adaptasi tema global UNESCO ke dalam tema nasional “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”.
Menurutnya, sesama mencerminkan literasi yang mendorong inklusi, partisipasi, dan keadilan. Semesta menggambarkan literasi untuk memahami planet yang dihuni bersama sekaligus tanggung jawab menjaga keberlanjutan. Sementara sejahtera menempatkan literasi sebagai jalan untuk membangun kehidupan dan kualitas hidup yang lebih baik. “Adopsi ini membawa pesan global lebih dekat kepada keluarga dan masyarakat, sementara mengembangkan semangat tema ‘Literasi untuk Sesama’,” ujarnya.
Memasuki enam dekade Hari Aksara Internasional, UNESCO mengajak Indonesia dan negara-negara lain tidak hanya merayakan capaian, tetapi juga memperbarui komitmen kepada kelompok yang masih tertinggal.
Santosh mendorong pengembangan pembelajaran bagi anak muda dan orang dewasa, penguatan literasi dasar, serta pemanfaatan teknologi digital dan AI untuk memperluas inklusi dan kesempatan belajar. “Literasi bukan hanya mengenai membaca kata-kata, tetapi juga memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan untuk membentuk masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
UNESCO, kata Santosh, siap terus bekerja bersama pemerintah Indonesia dan berbagai mitra untuk memperkuat literasi, pembelajaran sepanjang hayat, dan pendidikan inklusif.
Ia berharap gerakan literasi dapat terus membuka pintu bagi pembelajaran, memperluas kesempatan berpartisipasi, serta membangun masyarakat yang lebih damai, inklusif, dan memiliki masa depan yang berkembang. “Literasi untuk sesama, semesta, dan sejahtera,” pungkas Santosh.