Jakarta, InfoPublik – Kemampuan membaca dapat menjadi pintu menuju kemandirian. Bagi seorang ibu di pelosok, misalnya, kemampuan memahami pesan anak, petunjuk obat, informasi harga hasil kebun, hingga mengisi formulir secara mandiri dapat mengubah cara ia menjalani kehidupan.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin mengatakan pengalaman tersebut menggambarkan makna literasi yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenali huruf dan kata.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, literasi adalah kemampuan membaca kehidupan,” ujar Tatang saat menyampaikan laporan dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 bertema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, Selasa (8/9/2026).
Menurut Tatang, perjalanan 60 tahun Hari Aksara Internasional menunjukkan bahwa makna literasi terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Jika pada masa lalu perhatian utama diarahkan agar setiap orang mampu membaca dan menulis, tantangan saat ini jauh lebih kompleks.
Masyarakat dituntut mampu membaca dan memilah informasi, membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, berpikir kritis, menggunakan teknologi dan kecerdasan artifisial secara bijak, mengambil keputusan, serta terus belajar sepanjang hayat. “Karena itu, Hari Aksara Internasional 2026 bukan sekadar mengenang keberhasilan masa lalu. Kita sedang memastikan agar literasi tetap menjadi bekal manusia menghadapi masa depan,” katanya.
Tatang menjelaskan, tema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” mengadopsi semangat global UNESCO, Literacy for People, the Planet and Prosperity. Tema tersebut, menurut dia, sekaligus menggambarkan arah pengembangan gerakan literasi di Indonesia.
Dimensi sesama menempatkan literasi sebagai sarana untuk membuat manusia semakin berdaya dan mampu hidup bersama secara bermartabat. Sementara semesta mengajak masyarakat tidak hanya membaca buku, tetapi juga “membaca” alam dan memahami tanggung jawab terhadap lingkungan.
Adapun sejahtera menegaskan bahwa pengetahuan harus bermuara pada kesempatan, produktivitas, dan kualitas hidup yang lebih baik. “Sejahtera, karena pengetahuan harus terus berujung pada kesempatan, produktivitas, dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Tatang, pemaknaan tersebut penting agar gerakan literasi tidak berhenti pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia menekankan keberhasilan gerakan literasi tidak seharusnya diukur dari seberapa meriah peringatan Hari Aksara Internasional digelar. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak kehidupan masyarakat yang berubah karena literasi. “Ukuran keberhasilan literasi bukan seberapa meriah kita memperingatinya, tapi seberapa banyak kehidupan yang berubah karenanya,” kata Tatang.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 diharapkan menjadi pintu masuk bagi gerakan literasi yang lebih luas di berbagai daerah. Webinar dan rangkaian kegiatan peringatan bukan tujuan akhir, melainkan awal untuk mendorong aksi nyata setelah kegiatan berlangsung.
Tatang mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan September 2026 sebagai momentum untuk menggerakkan masyarakat melalui tahapan yang sederhana tetapi berdampak: dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, hingga gerakan tersebut menghasilkan kesejahteraan.
“60 tahun Hari Aksara Internasional bukan sekadar perjalanan yang kita kenang. Ia adalah fondasi untuk melangkah lebih jauh, agar semakin banyak manusia mampu membaca dunia, memahami zamannya, dan menulis masa depannya sendiri,” tuturnya.
Ia menegaskan, literasi untuk sesama, semesta, dan sejahtera bukan sekadar tema peringatan, melainkan gerakan bersama dan ikhtiar untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera. “Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita untuk Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera,” pungkas Tatang.