Jakarta, InfoPublik – Kemampuan membaca dan menulis tidak lagi cukup untuk menghadapi perubahan zaman. Di tengah banjir informasi, perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan tantangan lingkungan, literasi menjadi bekal untuk memahami realitas, berpikir kritis, hingga mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan literasi memiliki posisi strategis sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Literasi adalah fondasi bagi Indonesia Emas 2045. Bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, peduli lingkungan, dan sejahtera,” ujar Abdul Mu'ti saat membuka Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 bertema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, Selasa (8/9/2026).
Menurut Abdul Mu'ti, literasi harus dipahami sebagai kemampuan untuk “membaca dunia”, bukan sekadar membaca kata. Masyarakat perlu mampu memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, kemudian menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendorong perubahan yang lebih baik.
Perubahan cara pandang itu semakin mendesak seiring munculnya berbagai tantangan baru. Masyarakat kini berhadapan dengan arus informasi yang sangat cepat, perubahan sosial, krisis lingkungan, serta perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
Karena itu, literasi perlu mencakup kemampuan memahami informasi secara kritis, merefleksikan konten yang dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan. “Tidak sekadar menerima informasi, tetapi menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi,” katanya.
Abdul Mu'ti mengatakan, tantangan literasi tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Secara global, masih terdapat kesenjangan besar dalam kemampuan literasi dasar. Mengutip data UNESCO, ia menyebut sekitar 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia masih belum memiliki keterampilan literasi dasar. Bahkan, empat dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang pendidikan dasar.
Menurutnya, angka tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai statistik. Data itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memperoleh hak dasar untuk belajar, memahami, dan mengembangkan diri.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 sekaligus menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan enam dekade gerakan literasi. Tahun ini menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional pertama kali diperingati pada 1966.
Momentum tersebut juga diarahkan untuk melihat kembali capaian literasi, memperdalam makna literasi pada era digital dan kecerdasan artifisial, serta merumuskan agenda literasi yang relevan dengan tantangan masa kini.
Tema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” menjadi kerangka yang ditawarkan untuk memperluas gerakan literasi di Indonesia. Abdul Mu'ti menyebut konsep tiga dimensi tersebut sebagai 3S yang sederhana, mudah diingat, sekaligus kontekstual.
Sesama menekankan pentingnya memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dari kesempatan belajar. Hal itu diwujudkan melalui pendidikan inklusif, literasi kritis, serta dialog antargenerasi.
Semesta menempatkan pengetahuan sebagai dasar untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Sementara sejahtera berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup. Di dalamnya termasuk kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, dan keterampilan digital agar masyarakat mampu bekerja, berkarya, dan hidup lebih baik. “Tema 3S ini menjadi rumah gerakan yang ringkas, mudah diingat, dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, dan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Abdul Mu'ti.
Abdul Mu'ti menekankan pembangunan masyarakat yang literat membutuhkan partisipasi seluruh elemen bangsa. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk memastikan literasi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, PKBM, SKB, Taman Bacaan Masyarakat, forum atau asosiasi pendidikan nonformal dan informal (PNFI), komunitas literasi, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan para pegiat pendidikan memiliki peran masing-masing.
Ia secara khusus mengapresiasi para pegiat literasi di PKBM, SKB, Taman Bacaan Masyarakat, forum atau asosiasi PNFI, serta komunitas literasi yang terus menghidupkan ruang belajar di berbagai daerah. “Kalian adalah garda terdepan yang menghidupkan literasi di tengah masyarakat, di pelosok desa, di ruang belajar sederhana, dan di tengah segala keterbatasan yang ada,” tuturnya.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 juga diharapkan menjadi momentum menghidupkan bulan literasi melalui kegiatan nyata di daerah dan komunitas. Kegiatan tersebut tidak harus besar, tetapi perlu dirancang dekat dengan persoalan masyarakat dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Keterlibatan warga belajar, keluarga, dan komunitas menjadi penting agar literasi tidak berhenti sebagai program, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan gerakan sosial.