SLEMAN, InfoPublik – Di sudut padukuhan yang tenang di Sekretariat Lembaga Sri Tumuwuh, Jalan Seyegan–Tempel, Bulak Kenari Kregolan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, kehangatan diskusi kebudayaan mengalir selama tiga hari, mulai Jumat (21/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026).
Melalui Sekolah Agama Leluhur Tingkat DIY Angkatan ke-4 bertajuk “Memetri Bumi, Nggulowentah Generasi”, sebanyak 30 pemuda penghayat dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul untuk mengasah kesadaran kritis serta mengencangkan tali regenerasi kepemimpinan muda.
Perhelatan edukatif ini diselenggarakan atas kolaborasi Lembaga Sri Tumuwuh dengan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada, serta mendapat dukungan penuh dari Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) Kementerian Kebudayaan RI.
Perwakilan Sekretariat Sri Tumuwuh Kukuh Tigo Manggolo mengungkapkan, ruang belajar ini dirancang untuk merekatkan kembali pemuda dengan akar tradisi, termasuk pemaknaan ritual tanam-panen, laku ngrowot, serta penyelamatan tanaman pangan lokal yang mulai langka seperti gadung, ganyong, garut, suweg, dan gembili.
"Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas keorganisasian dan kepemimpinan pemuda penghayat, sekaligus membangun kesadaran kritis lintas generasi mengenai keterkaitan antara ritual tradisi, penanggalan pranata mangsa, dan praktik spiritualitas ekologis," jelas Kukuh.
Pada hari kedua, Direktur BKMA Kementerian Kebudayaan RI Syamsul Hadi menyoroti ancaman pudarnya eksistensi penghayat akibat minimnya keterlibatan anak muda dalam struktur kebudayaan yang selama ini didominasi generasi sepuh.
"Tantangan pewarisan pengetahuan leluhur perlu mendapat perhatian bersama. Berkurangnya tradisi ngrowot dan pemaknaan pangan lokal bukan sekadar pudarnya kebiasaan, melainkan hilangnya identitas serta kesadaran keterhubungan manusia dengan alam," tegas Syamsul.
Melalui diskusi kelompok mendalam mengenai hakikat papan, sandang, dan pangan, Sekolah Agama Leluhur ini diharapkan melahirkan barisan pemimpin muda penghayat yang tidak hanya mahir berorganisasi, tetapi juga teguh menjadikan kearifan lokal sebagai laku hidup sehari-hari. (KIM Seyegan/Sutarto Agus)