SLEMAN, InfoPublik – Denyut nadi pelestarian seni budaya tradisional rupanya masih berdetak sangat kencang di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.
Sebuah inisiatif pendataan organik yang digagas oleh Komunitas Pemerhati Seni Budaya Tempel (PSBT) sukses memetakan kekayaan lokal tersebut dengan mencatat sedikitnya 143 grup kesenian rakyat yang masih aktif berkesenian.
Ketua PSBT, Wahyu Herlambang, menuturkan, angka tersebut barulah data sementara yang diyakini akan terus bertambah seiring berjalannya proses verifikasi di lapangan.
Ditemui di kawasan Sedogan pada Rabu (7/10/2026), Wahyu menargetkan seluruh proses validasi profil sanggar dapat dirampungkan secara komprehensif pada akhir tahun 2026.
Menilik rincian hasil pemetaan sementara, geliat seni ini telah menyebar subur di 76 dari total 98 padukuhan yang ada di Kapanewon Tempel.
Dominasi panggung hiburan rakyat masih dipegang erat oleh 34 grup Jathilan, disusul 31 grup Hadroh, belasan grup kesenian Kubro, bergodo prajurit, hingga karawitan.
Menariknya, di tengah pusaran zaman yang serba cepat, Tempel ternyata masih memelihara peninggalan seni langka.
Kelompok Wayang Orang terpantau masih lestari di Padukuhan Canggal, alunan keroncong mengalun syahdu di Gendol Kulon, serta seni panggung Ketoprak yang gagah bertahan di kawasan Tambakrejo dan Sumberejo.
Wilayah Kalurahan Sumberejo sendiri tercatat sebagai lumbung budaya paling produktif dengan menaungi 30 grup, disusul Lumbungrejo dan Margorejo.
Wahyu menegaskan, jerih payah pemetaan ini tidak akan dibiarkan berakhir menjadi tumpukan arsip usang di atas meja.
Tim PSBT bertekad untuk turun tangan langsung mendampingi ratusan kelompok kesenian tersebut agar segera mengantongi legalitas berupa Nomor Induk Kesenian (NIK) dari Kundha Kabudayan Sleman.
Kepemilikan identitas resmi ini menjadi kunci pembuka gerbang bagi para seniman akar rumput untuk mendapatkan pembinaan, bantuan fasilitas, hingga kesempatan unjuk gigi di panggung bergengsi.
Tidak hanya sebatas legalitas, PSBT juga bersiap mengorbitkan pesona para seniman desa ini ke ruang digital melalui jejaring media sosial dan wadah Kelompok Informasi Masyarakat. (MC Kab. Sleman / KIM Senyum Tempel / Sadhono Hadi)