Jakarta, InfoPublik — Pendidikan tidak sekadar membuka akses belajar, tetapi juga menyalakan kembali mimpi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam keterbatasan. Karena itu, beasiswa perlu dipandang bukan hanya sebagai bantuan biaya pendidikan, melainkan investasi untuk melahirkan generasi yang kelak mampu memberi dampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq dalam Media Briefing SCG Sharing the Dream 2026 Awarding Ceremony di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Fajar Riza Ul Haq menuturkan, pentingnya akses pendidikan kembali ia rasakan saat mengunjungi sejumlah daerah dengan kondisi geografis dan sosial yang menantang. Salah satunya Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang sebagian besar wilayahnya berupa perairan dan memiliki komunitas masyarakat Suku Bajo.
Di daerah tersebut, Fajar bertemu dengan siswa dari sekolah yang seluruh peserta didiknya berasal dari Suku Bajo. Ketika ditanya tentang cita-cita, mereka menyebut profesi seperti guru, dokter, tentara, dan polisi.
Menurut Wamen Fajar, jawaban sederhana itu menunjukkan bagaimana pendidikan mampu memperluas cakrawala seorang anak. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat pesisir pun dapat membayangkan masa depan yang lebih luas, termasuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengembangkan pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masyarakatnya.
Ia juga menceritakan pertemuannya dengan perempuan pertama dari Suku Bajo yang berhasil meraih gelar dokter. Perempuan tersebut kini menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi. “Pendidikan telah membangun mimpi seorang anak,” kata Fajar.
Lebih lanjut, Wamendikdasmen mengatakan, mimpi tersebut bahkan berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Anak-anak Suku Bajo, misalnya, berharap suatu saat dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu orang tua mereka yang selama ini melaut menggunakan peralatan tradisional.
Bagi Fajar Riza Ul Haq, kondisi itu menjadi bukti bahwa pendidikan dapat mengubah cara anak melihat masa depan sekaligus mendorong mereka mencari solusi atas persoalan yang dihadapi keluarga dan komunitasnya.
Pengalaman Muaro Jambi
Pengalaman serupa ditemui Fajar ketika mengunjungi Kabupaten Muaro Jambi, dua hari sebelum acara tersebut. Ia mendatangi SMA Negeri 1 Muaro Jambi yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal reguler. PJJ tersebut ditujukan bagi anak yang menghadapi hambatan ekonomi, geografis, maupun kondisi sosial tertentu.
Di sekolah itu, Fajar bertemu seorang siswa yang tetap bekerja sebagai pencuci sepeda motor sembari mengikuti pendidikan. Setiap hari, anak tersebut memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu dari pekerjaannya.Ketika ditanya tentang cita-citanya, ia menjawab ingin membahagiakan orang tua dengan memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Bagi Fajar, kisah tersebut memperlihatkan peran negara dalam memastikan keterbatasan ekonomi tidak mematikan harapan anak. “Pendidikan itu menghidupkan mimpi seorang anak yang nyaris padam,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab membuka akses pendidikan sekaligus memastikan anak-anak yang tinggal di wilayah sulit dijangkau tetap memiliki kesempatan membangun masa depan. Dalam konteks tersebut, Fajar menilai penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2026 berada pada posisi yang beruntung karena memperoleh kesempatan yang belum tentu dimiliki semua anak Indonesia.
Ia menyebut beasiswa sebagai sebuah “kemewahan” karena memberikan kesempatan kepada penerimanya untuk menempuh pendidikan lebih tinggi di tengah keterbatasan. Namun, kesempatan itu harus diikuti tanggung jawab.
Fajar meminta para penerima beasiswa menyelesaikan pendidikan, menuntaskan kuliah, kemudian kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. “Setelah mendapatkan beasiswa ini, menuntaskan pendidikannya, menuntaskan kuliahnya dan kembali ke masyarakat, memberikan dampak positif buat masyarakat,” katanya.
Ia berharap penerima beasiswa saat ini kelak tidak hanya menjadi pihak yang menerima manfaat, tetapi berubah menjadi generasi yang mampu memberi dan membuka kesempatan bagi anak-anak lain.
Menurut Fajar, semangat tersebut sejalan dengan filosofi bahwa tangan yang memberi memiliki posisi lebih baik daripada tangan yang menerima. Namun, ia menekankan bahwa posisi sebagai penerima bukan sesuatu yang permanen. Dengan akses, afirmasi, pendidikan, dan kesempatan yang tepat, seseorang yang hari ini menerima bantuan dapat menjadi pihak yang memberi manfaat di kemudian hari.
Fajar mengapresiasi konsistensi PT SCG Indonesia yang telah memberikan dukungan beasiswa bagi putra-putri Indonesia selama lebih dari 14 tahun. Ia berharap komitmen tersebut terus berlanjut sekaligus diperluas agar semakin banyak anak memperoleh akses pendidikan.
Apresiasi juga disampaikan kepada Angkora Foundation yang berperan sebagai penghubung dan katalisator untuk memastikan program beasiswa menjangkau penerima yang tepat, termasuk anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Apresiasi Keterlibatan Dunia Usaha
Menurut Fajar, keterlibatan dunia usaha dalam pendidikan merupakan bagian dari semangat partisipasi semesta yang sedang didorong pemerintah untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua. “Kolaborasi semua sektor untuk memastikan anak-anak kita di berbagai tempat bisa mendapatkan akses pendidikan yang sangat layak,” ujarnya.
Ia menilai dukungan korporasi seperti SCG memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dunia usaha, masyarakat, lembaga filantropi, dan berbagai pemangku kepentingan perlu mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing.
Karena itu, Fajar juga mendorong para penerima beasiswa untuk membawa semangat keberlanjutan dalam karya mereka. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pada masa depan. “Sepuluh sampai dua puluh tahun yang akan datang justru pada posisi memberi,” tegasnya.
Bagi Fajar, keberhasilan program beasiswa pada akhirnya bukan hanya diukur dari jumlah penerima atau kelulusan mereka. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh para penerima mampu mengubah kesempatan yang diperoleh menjadi karya dan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, mimpi yang hari ini dibantu untuk tumbuh dapat diteruskan menjadi mimpi baru bagi anak-anak Indonesia lainnya.