Pekan Genting 2026 Perkuat Data Keluarga Berisiko Stunting
Ilustrasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) 2026. (Kemendukbangga)
Ilustrasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) 2026. (Kemendukbangga)
Jakarta, InfoPublik – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memperkuat verifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunting melalui Pekan Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) 2026 untuk memastikan intervensi pencegahan stunting diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan keluarga sasaran.
Deputi Bidang Pergerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN Wahyuniati mengatakan, akurasi data menjadi dasar penting dalam menentukan ketepatan intervensi di lapangan.
"Ketepatan sasaran memang harus dimulai dengan ketepatan data yang ada di dalam Keluarga Risiko Stunting,” ujar Wahyuniati saat memberikan arahan pada peluncuran Pekan Genting 2026 secara daring melalui Zoom dari Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, Tim Pendamping Keluarga (TPK) tidak cukup hanya melakukan pendataan. TPK perlu turun langsung untuk melihat kondisi keluarga, mengidentifikasi persoalan, sekaligus mengetahui kebutuhan intervensi yang diperlukan.
Melalui kunjungan langsung, TPK dapat mengetahui apakah keluarga membutuhkan edukasi, dukungan nutrisi, rumah layak huni, akses air bersih, jamban sehat, atau bentuk dukungan lainnya. “Jadi ini adalah kesempatan yang baik kita bisa mengetahui yang dibutuhkan oleh keluarga risiko stunting itu apa. Sehingga datanya ini sudah bisa langsung masuk ke dalam data kita,” katanya.
Hasil verifikasi dan validasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar komunikasi dengan para mitra. Dengan demikian, intervensi yang diberikan tidak dilakukan secara seragam, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga.
Wahyuniati mengatakan, pendekatan berbasis kebutuhan tersebut penting agar bantuan yang diberikan benar-benar menjawab persoalan keluarga. Data yang lebih rinci juga dapat menunjukkan jumlah keluarga yang membutuhkan jenis intervensi tertentu, termasuk lokasi dan kebutuhan yang harus ditindaklanjuti.
Selain memastikan ketepatan intervensi, kunjungan langsung TPK juga menjadi kesempatan untuk memberikan edukasi kepada keluarga. Materi yang diberikan antara lain perilaku hidup sehat, pemenuhan nutrisi anak, pola asuh, akses layanan kesehatan, serta gizi dan keamanan pangan. "Edukasi ini menjadi fundamental. Apapun intervensi yang kita berikan harus didasari dengan edukasi yang baik,” katanya.
Menurutnya, proses tersebut membuat pendataan tidak berhenti pada pengumpulan informasi. Pertemuan langsung juga memberikan ruang bagi TPK untuk berdiskusi dengan keluarga dan memahami persoalan yang mereka hadapi.
Pekan Genting 2026 merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah kegiatan serupa dilakukan pada 2025. TPK dan kader turun langsung menemui keluarga untuk memvalidasi kondisi, mengidentifikasi kebutuhan, serta memberikan edukasi.
Wahyuniati menekankan agar proses tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Kebutuhan keluarga perlu terus dipantau sehingga intervensi maupun edukasi lanjutan dapat diberikan sesuai perkembangan kondisi.
Melalui Pekan Genting 2026, pemerintah mengajak pemerintah daerah/kabupaten/kota, penyuluh keluarga berencana, TPK, Tim Pengendali Genting, dan para mitra memperkuat kolaborasi agar intervensi pencegahan stunting semakin tepat sasaran. Hingga akhir Juli 2026, capaian Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) secara nasional disebut telah mencapai sekitar 73 persen.
© Copyright 2026, All Rights Reserved