SLEMAN, InfoPublik – Guru Besar Program Studi Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suwarno Dwijonagoro memandang nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap relevan sebagai benteng pertahanan sosial.
Hal tersebut dipaparkannya saat menjadi narasumber Sarasehan Restorasi Sosial di GOR Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Senin (3/8/2026).
Menurut Suwarno, restorasi sosial berbasis budaya lokal berangkat dari kearifan sejarah yang terbukti ampuh menjaga kerukunan serta memperkuat solidaritas di tengah arus perubahan zaman.
"Kunci hidup bermasyarakat adalah menjaga kerukunan. Ketika masyarakat mampu hidup rukun, persoalan dapat diselesaikan bersama dan kesejahteraan akan lebih mudah diwujudkan," ujar Suwarno.
Ia menguraikan beberapa ajaran luhur seperti tepa salira (tenggang rasa), ojo dumeh (rendah hati), ngajeni (saling menghormati), dan tradisi gotong royong dan rembugan (musyawarah) sebagai mekanisme paling bijaksana dalam menyelesaikan setiap dinamika di masyarakat.
Internalisasi nilai-nilai tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun warga, diharapkan mampu membentengi generasi muda dari tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial DIY ini dihadiri oleh jajaran praktisi sosial, aparatur kelurahan, serta tokoh masyarakat guna menggali kearifan lokal sebagai instrumen pembangunan kesejahteraan warga. (KIM Tempel/SBD)