Pemilik Lippo dan Pakuwon: Kondisi Aman, Industri Pusat Perbelanjaan Terus Bertumbuh
ilustrasi foto salah satu mall di kawasan Jakarta Pusat.
ilustrasi foto salah satu mall di kawasan Jakarta Pusat.
Jakarta, InfoPublik – Pemilik dua jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, Lippo Group dan Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif sehingga tidak diperlukan pemasangan pagar pembatas di pusat perbelanjaan. Mereka memastikan pagar yang sempat dipasang di sejumlah mal merupakan inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan perusahaan.
Chairman Lippo Group sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James T. Riady, mengatakan seluruh mal milik Lippo pernah memasang pagar saat Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, seiring membaiknya situasi keamanan, pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar.
"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang," ujar James, dalam siaran pers KADIN, Jumat (31/7/2026).
Senada, pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja, memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar. Menurutnya, pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen setempat tanpa arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat. "Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," katanya.
Sebelumnya Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Alexander Tedja terkait polemik pemasangan pagar di mal tersebut. Berdasarkan komunikasi itu, Alexander menegaskan pagar di Kota Kasablanka akan dibongkar dan penataan kawasan akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
"Saya juga sudah berbicara langsung dengan Pak Alex Tedja. Beliau mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan," ujar Maruarar.
Maruarar turut mengapresiasi sikap James Riady dan Alexander Tedja yang secara terbuka menyampaikan bahwa kondisi keamanan Indonesia tetap baik. "Mereka adalah pemilik mal dan hotel di Indonesia. Sikap kedua pemilik mal ini patut diapresiasi karena situasi keamanan kita memang baik," katanya.
James menilai tidak ada alasan bagi masyarakat untuk khawatir terhadap kondisi sosial maupun ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan strategis, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi di tengah gejolak harga energi global.
"Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah," ujarnya.
Ia menambahkan, optimisme tersebut tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang saat ini masih menunjukkan tren positif. Permintaan ruang usaha dari tenant bahkan disebut melampaui ketersediaan ruang di banyak pusat perbelanjaan.
"Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal," katanya.
Menurut James, prospek yang positif mendorong Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini perusahaan mengelola 106 pusat perbelanjaan yang terdiri atas 71 mal dan 35 shopping center di lebih dari 29 kota di Indonesia.
Ia menegaskan, tingginya permintaan ruang usaha dan ekspansi pengembang menjadi indikator kuat bahwa dunia usaha tetap percaya terhadap prospek ekonomi nasional.
"Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko. Fakta bahwa pengembang terus berekspansi menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat," ujarnya.
James kembali menegaskan bahwa pemasangan pagar di beberapa lokasi merupakan kasus yang bersifat terisolasi dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan. "Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan," tegasnya.
Alexander Tedja juga menyampaikan bahwa isu pagar mal sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, menurutnya, kondisi keamanan saat ini tetap kondusif sehingga tidak ada kebutuhan untuk memasang pagar pembatas di pusat perbelanjaan.