Jakarta, InfoPublik – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menerapkan intervensi sepanjang siklus kehidupan, mulai dari usia remaja hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sebagai strategi mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak di Indonesia.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Isyana Bagoes Oka mengatakan, meski angka kematian ibu menunjukkan tren penurunan, berbagai upaya penguatan tetap perlu dilakukan. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
"Kalau kita berbicara tentang sumber daya manusia, tentu saja semua kolaborasi harus dilakukan mulai sejak dini dan mulai dari unit yang terkecil yaitu keluarga," ujar Wamendukbangga saat peluncuran Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak di Jakarta, dan dikutip Jumat (24/7/2026).
Isyana menegaskan bahwa penurunan kematian ibu dan anak tidak cukup hanya melalui pelayanan kuratif. Upaya promotif dan preventif harus dilakukan secara berkesinambungan melalui edukasi, penggerakan masyarakat, dan pendampingan keluarga.
Pendampingan dimulai sejak remaja melalui pencegahan perkawinan usia dini, pendewasaan usia perkawinan, penyiapan kehidupan berkeluarga, Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta Generasi Berencana (GenRe).
Saat ini terdapat lebih dari 10.000 kelompok GenRe, lebih dari 40.000 PIK-R, dan lebih dari 60.000 kelompok Bina Keluarga Remaja di seluruh Indonesia.
Memasuki usia calon pengantin, Kemendukbangga memberikan pendampingan berupa skrining risiko kesehatan, edukasi gizi, pencegahan anemia, kesehatan reproduksi, hingga konseling melalui Elektronik Siap Nikah Siap Hamil (Elsimil).
Intervensi berlanjut kepada pasangan usia subur melalui edukasi perencanaan kehamilan, pencegahan kehamilan berisiko dengan konsep 4 Terlalu, serta mendorong masyarakat memanfaatkan layanan Posyandu dan Puskesmas.
Menurut Isyana, pendampingan semakin diperkuat pada masa 1.000 HPK melalui pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi pengasuhan, serta kolaborasi Tim Pendamping Keluarga dengan kader Posyandu dan kader kesehatan. "Kader-kader Posyandu juga kader-kader kesehatan selama ini terus berkolaborasi secara langsung di lini lapangan dengan kader-kader KB kami yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga," katanya.
Saat ini terdapat 97.358 kelompok Bina Keluarga Balita yang mendukung pendampingan keluarga di seluruh Indonesia.
Isyana berharap kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak mampu mempercepat pencapaian target pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.