Jakarta, InfoPublik - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat (BBO) yang masih mencapai sekitar 90 persen menjadi tantangan besar bagi ketahanan kesehatan nasional. Untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak rantai pasok global, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat pengembangan hingga hilirisasi bahan baku obat produksi dalam negeri.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, menegaskan bahwa mewujudkan kemandirian bahan baku obat tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas riset. Diperlukan sinergi yang kuat antara lembaga penelitian, pemerintah, perguruan tinggi, regulator, dan industri agar inovasi dapat dihilirisasikan menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat. Karena salah satu tantangan utama saat ini adalah masih adanya kesenjangan antara hasil penelitian dengan kebutuhan industri. Akibatnya, adopsi teknologi berjalan lambat dan banyak inovasi belum mampu memasuki tahap komersialisasi.
"Hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara hasil riset dengan kebutuhan industri sehingga adopsi teknologi berjalan relatif lambat. Berbagai inovasi yang telah dihasilkan peneliti juga belum sepenuhnya memperoleh dukungan pada tahap hilirisasi, mulai dari validasi teknologi, peningkatan skala produksi, hingga akses pasar," ujar Indi, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Kamis (9/7/2026).
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, mengatakan pengembangan bahan baku obat harus menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Meski Indonesia telah mampu memproduksi sedikitnya 42 jenis bahan baku obat, kebutuhan untuk obat-obatan prioritas nasional masih didominasi produk impor.
Menurut Lucia, pengembangan bahan baku obat harus diselaraskan dengan kebutuhan penyakit prioritas di Indonesia, seperti kanker, penyakit jantung, stroke, uronefrologi, hingga penyakit yang berkaitan dengan meningkatnya populasi lanjut usia. Dengan demikian, hasil riset dapat menjawab kebutuhan sistem kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Dari sisi perguruan tinggi, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Yos Sunitiyoso, menilai ekosistem riset bahan baku obat masih terlalu berorientasi pada pendekatan technology push atau berbasis keunggulan akademik.Ke depan, menurutnya, pendekatan riset perlu bergeser menjadi demand pull, yakni berangkat dari kebutuhan nyata industri dan pemerintah agar peluang hilirisasi semakin besar.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) melalui dukungan pendanaan, pendampingan, dan kolaborasi lintas sektor sehingga inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu diproduksi secara industri.
Pelaku industri farmasi menilai tantangan terbesar dalam penggunaan bahan baku obat lokal adalah skala pasar yang masih terbatas serta dominasi produk impor yang telah menguasai rantai pasok global. Selain itu, industri membutuhkan kepastian pasokan bahan baku, kualitas produk yang konsisten, serta keberlanjutan produksi sebelum mengadopsi hasil riset dalam negeri sebagai bagian dari proses manufaktur.
Menjawab tantangan tersebut, Direktur Industri Kimia Hulu Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, mengatakan pemerintah tengah memperkuat berbagai kebijakan untuk meningkatkan penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeri.
Langkah tersebut antara lain melalui integrasi produk lokal ke dalam sistem pengadaan nasional, seperti e-Katalog dan skema INA-CBGs, serta penyusunan tata niaga yang memberikan kepastian usaha bagi industri farmasi yang memanfaatkan bahan baku lokal.
Sebagai hasil forum, BRIN menegaskan bahwa penguatan kemandirian bahan baku obat harus menjadi agenda strategis nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Ekosistem inovasi perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari industri kimia hulu, industri bahan antara (intermediate), pelarut, hingga eksipien sebagai fondasi pengembangan industri farmasi nasional.
Untuk mempercepat proses tersebut, BRIN merekomendasikan pembentukan konsorsium riset dan inovasi bahan baku obat yang melibatkan kementerian, perguruan tinggi, industri, serta lembaga pendanaan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian, meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), memperbesar kapasitas produksi nasional, sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi Indonesia sehingga ketergantungan terhadap impor bahan baku obat dapat dikurangi secara bertahap.