Sasakawa Leprosy Initiative: Indonesia Berpeluang Jadi Model Dunia dalam Eliminasi Kusta
President Sasakawa Leprosy Initiative, Takahiro Nanri
President Sasakawa Leprosy Initiative, Takahiro Nanri
Jakarta, InfoPublik – Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi model global dalam percepatan eliminasi kusta melalui pendekatan lintas sektor yang melibatkan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan.
Optimisme tersebut disampaikan President Sasakawa Leprosy Initiative, Takahiro Nanri, yang menegaskan bahwa fase "last mile" atau tahap terakhir eliminasi kusta telah dimulai dan Indonesia berada pada posisi strategis untuk memimpinnya.
Dalam Konferensi Nasional Percepatan Eliminasi Kusta di Jakarta, Kamis (9/7/2026), Takahiro Nanri mengapresiasi komitmen Pemerintah Indonesia yang dinilai berhasil menghadirkan forum nasional untuk memperkuat kolaborasi dalam mengakhiri kusta.
Ia menyampaikan penghargaan kepada Presiden Republik Indonesia serta Kementerian Kesehatan yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan konferensi tersebut, meski dalam waktu persiapan yang terbatas.
Nanri juga menyambut kehadiran para kepala dinas kesehatan provinsi, tenaga kesehatan, peneliti, organisasi nonpemerintah, media, hingga perwakilan penyandang dampak kusta dari lebih dari 30 provinsi. "Partisipasi mereka sangat penting karena merekalah yang benar-benar mewakili suara para penyandang dampak kusta," ujarnya.
Menurut Nanri, Sasakawa Leprosy Initiative telah mendukung program nasional penanggulangan kusta di berbagai negara, termasuk Indonesia, selama lebih dari 50 tahun. Yayasan tersebut juga menjadi salah satu penyokong utama pendanaan program kusta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekaligus aktif memperkuat organisasi penyandang dampak kusta di berbagai negara.
Pada Konferensi Internasional Kusta di Bali tahun lalu, Sasakawa Leprosy Initiative juga memfasilitasi Global Forum of Organizations of Persons Affected by Leprosy yang mempertemukan lebih dari 120 perwakilan penyandang dampak kusta dari 30 negara.
Selain memperkuat pemberdayaan masyarakat, organisasi tersebut juga terus mendorong lahirnya komitmen politik dalam upaya eliminasi kusta melalui konferensi serupa di Nepal, Sri Lanka, dan Brasil yang dihadiri kepala negara maupun kepala pemerintahan.
Nanri juga menegaskan bahwa kusta tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan medis. Penyakit yang telah ada selama lebih dari dua ribu tahun itu juga berkaitan erat dengan persoalan hak asasi manusia, kemiskinan, pendidikan, dan pembangunan.
"Kusta bukan hanya penyakit. Ini juga persoalan stigma, diskriminasi, hak asasi manusia, kemiskinan, pendidikan, hingga agenda pembangunan. Karena itu, mengakhiri kusta berarti sekaligus menjawab berbagai tantangan pembangunan yang lebih luas," katanya.
Ia menilai pengalaman menangani kusta dapat menjadi pembelajaran penting bagi dunia dalam menghadapi penyakit menular lain sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Nanri secara khusus mengapresiasi rencana Pemerintah Indonesia membentuk Satuan Tugas Eliminasi Kusta yang melibatkan berbagai kementerian, antara lain Kementerian Koordinator, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial, hingga Kementerian Agama.
Menurutnya, mekanisme koordinasi lintas kementerian seperti itu belum dimiliki negara lain. "Saya percaya Indonesia dapat menjadi model bagi negara-negara lain dalam percepatan eliminasi kusta. Sasakawa Leprosy Initiative berkomitmen mendukung penuh inisiatif tersebut," ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Nanri memperkenalkan slogan baru Sasakawa Leprosy Initiative, yakni "Don't Forget Leprosy: The Last Mile Starts Now."
Slogan tersebut menggantikan kampanye sebelumnya, "Don't Forget Leprosy: No One Left Behind," yang diluncurkan saat pandemi COVID-19 untuk mengingatkan dunia agar tidak mengabaikan penanganan kusta.
Kini, menurut Nanri, dunia telah memasuki tahap paling menentukan menuju eliminasi penyakit tersebut. "Kita hampir mencapai tahap terakhir eliminasi kusta. Namun, tahap terakhir adalah yang paling sulit sekaligus paling penting. Karena itu, kita harus bersatu dan bekerja bersama," pesannya.
Ia menegaskan bahwa eliminasi kusta di Indonesia bukan sekadar harapan, melainkan target yang dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pihak. "Eliminasi kusta di Indonesia adalah sesuatu yang mungkin dicapai. Dan perjalanan menuju tahap terakhir itu dimulai sekarang, dari Indonesia," pungkasnya.