Batang, InfoPublik – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Sigayam, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi partisipasi pemuda dan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Keterlibatan generasi muda terlihat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan. Melalui koordinasi tingkat RT dan organisasi kepemudaan Karang Taruna, para pemuda dilibatkan dalam musyawarah, penyediaan tenaga, hingga pekerjaan lapangan seperti pembersihan dan pengecoran jalan.
Pemuda Desa Sigayam, Sofyan (33), mengatakan pelibatan pemuda menjadi salah satu kekuatan utama TMMD di wilayahnya. Menurut dia, partisipasi tersebut bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, melainkan membangun rasa tanggung jawab terhadap hasil pembangunan.
“Pemuda dilibatkan sejak awal melalui musyawarah dan gotong royong. Antusiasmenya tinggi karena mereka merasakan langsung manfaat pembangunan ini,” ujar Sofyan, saat ditemui tim InfoPublik, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, sistem gotong royong dijadwalkan secara bergiliran per RT sehingga keterlibatan warga dan pemuda berlangsung terorganisasi. Kehadiran Karang Taruna juga dinilai efektif dalam menggerakkan partisipasi di berbagai wilayah desa.
Bagi para pemuda, pembangunan jalan melalui TMMD membuka akses yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat. Jalan yang lebih baik memudahkan mobilitas warga sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan sosial.
Tidak berhenti pada proses pembangunan, kata Sofyan, pemuda juga menyiapkan komitmen menjaga infrastruktur yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami merasa ikut bertanggung jawab merawat jalan dan fasilitas yang sudah ada. Kalau ada kendaraan bermuatan berlebih, kami akan mengimbau agar tidak merusak jalan,” katanya.
Menurut dia, ruas jalan tersebut tidak hanya melayani kebutuhan warga desa, tetapi juga menjadi jalur penting menuju kawasan kebun dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pengawasan dan kesadaran bersama diperlukan agar kualitas jalan tetap terjaga.
Lebih jauh, Sofyan melihat pembangunan akses jalan berpotensi menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk ruang usaha kecil dan titik singgah warga maupun pengguna jalan.
“Ke depan bisa berkembang menjadi tempat singgah atau usaha kecil seperti warung kopi yang memberi peluang bagi pemuda,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan tokoh masyarakat dan pemuka agama Desa Sigayam, Akrom Syafii. Ia menilai pembangunan jalan menjadi perubahan paling nyata yang dirasakan masyarakat karena memangkas waktu tempuh dan mempermudah akses warga menuju pusat aktivitas.
“Warga sangat terbantu. Dulu perjalanan lebih lambat karena kondisi jalan kurang baik, sekarang akses jauh lebih mudah dan cepat,” katanya.
Menurut Akrom, manfaat terbesar dirasakan petani. Jalan yang telah diperbaiki memperlancar pengangkutan hasil panen seperti singkong, jagung, dan padi sehingga menekan hambatan transportasi yang sebelumnya kerap menjadi kendala.
Ia menyebut, perbaikan infrastruktur juga membuat arus mobilitas warga semakin ramai dan membuka akses yang lebih luas untuk pendidikan, perdagangan, maupun pelayanan masyarakat.
Karena itu, masyarakat berharap pembangunan tidak berhenti pada ruas yang sudah dikerjakan saat ini, tetapi dapat dilanjutkan hingga terhubung dengan wilayah sekitar.
“Harapan warga, akses ini bisa diteruskan ke desa-desa lain karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat,” ujar Akrom.
Bagi warga Sigayam, TMMD bukan sekadar proyek pembangunan jalan. Program tersebut menjadi penguat kolaborasi antara TNI, pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat untuk membangun konektivitas sekaligus menjaga semangat gotong royong sebagai fondasi pembangunan desa.