Batang, InfoPublik – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Sigayam, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dinilai tidak hanya menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga memperkuat kerukunan dan kehidupan sosial masyarakat desa.
Camat Wonotunggal, Kukuh Tri Laksana mengatakan, sebelum pelaksanaan TMMD, sejumlah wilayah di Sigayam menghadapi keterbatasan akses yang cukup berat. Kondisi jalan yang rusak bahkan menyulitkan mobilitas warga dan menghambat aktivitas ekonomi desa.
“Wilayah ini sebelumnya memang membutuhkan dukungan pembangunan karena ada kebutuhan infrastruktur yang belum dapat tercover seluruhnya melalui anggaran desa,” ujar Kukuh, saat ditemui tim Infopublik, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, usulan pembangunan kemudian disampaikan kepada Kodim 0736/Batang hingga akhirnya Desa Sigayam menjadi lokasi pelaksanaan TMMD. Sebelum program berlangsung, sebagian jalan desa disebut masih berupa tanah dan belum memiliki rabat beton yang memadai. Kondisi itu menyulitkan warga saat melintas, terutama ketika musim hujan.
“Dulu aksesnya sulit dan tidak bisa dilalui dengan mudah. Sekarang jalan sudah lebih layak dan kendaraan maupun aktivitas warga jauh lebih lancar,” jelasnya.
Perubahan tersebut, lanjut Kukuh, menghadirkan dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat serta perputaran ekonomi desa. Jalan yang lebih baik membuka konektivitas antarwilayah sekaligus mempermudah distribusi hasil pertanian dan aktivitas harian warga Sigayam.
Namun, Kukuh menilai nilai penting TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Karena, pelaksanaan pembangunan justru memperlihatkan tingginya antusiasme masyarakat untuk terlibat secara langsung bersama personel TNI. Warga ikut bergotong royong dalam pekerjaan fisik, mulai dari kegiatan pengecoran hingga pekerjaan lapangan lainnya.
“Antusiasme warga sangat luar biasa. Mereka ikut berpartisipasi bersama TNI dalam pembangunan,” katanya.
Selain pembangunan fisik, TMMD juga menghadirkan kegiatan nonfisik berupa penyuluhan yang dinilai memperluas wawasan masyarakat. Berbagai sosialisasi yang diberikan mencakup isu perpajakan, perkawinan dini, kesehatan, hingga berbagai persoalan sosial yang sebelumnya belum banyak dipahami masyarakat.
“Warga mendapat pengetahuan baru. Hal-hal yang sebelumnya belum diketahui menjadi lebih dipahami melalui kegiatan TMMD,” ujar Kukuh.
Ia menambahkan, manfaat pembangunan tidak hanya terlihat pada hasil infrastruktur, tetapi juga pada tumbuhnya hubungan sosial yang semakin erat di tengah masyarakat.
Menurut Kukuh, budaya gotong royong yang tumbuh selama TMMD menjadi modal sosial penting bagi pembangunan desa ke depan. “Yang kami rasakan bukan hanya jalan yang dibangun, tetapi juga hubungan masyarakat yang semakin guyub dan saling membantu,” katanya.
Pemerintah kecamatan juga berharap infrastruktur yang telah dibangun dapat dijaga secara berkelanjutan agar manfaatnya bertahan dalam jangka panjang.
Dengan keterbatasan fiskal pemerintah, pemeliharaan jalan dan sarana desa dinilai menjadi tanggung jawab bersama masyarakat. “Kalau dijaga bersama, jalan ini bisa bertahan sampai bertahun-tahun dan manfaatnya terus dirasakan warga,” tegas Kukuh.
Ia menyebut semangat kebersamaan yang tumbuh selama TMMD perlu terus dirawat melalui berbagai aktivitas sosial masyarakat, termasuk kerja bakti dan kepedulian terhadap fasilitas umum.
Nilai gotong royong yang terbangun selama program, lanjutnya, bahkan ikut memengaruhi hubungan sosial warga dalam kehidupan sehari-hari. “Semangat yang ditanamkan lewat TMMD bukan hanya saat pembangunan berlangsung, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan hingga keluarga,” katanya.
Kukuh berharap kerukunan dan semangat gotong royong yang tumbuh selama TMMD dapat terus dipelihara sebagai fondasi pembangunan desa. “Yang terbangun bukan hanya jalan, tetapi juga kebersamaan warga untuk menjaga kemajuan desa secara berkelanjutan,” pungkasnya.