Yogyakarta, InfoPublik – Di tengah ancaman krisis air dan eksploitasi air tanah yang terus meningkat, seorang perempuan di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Daerah Istimewa Yogyakarta, memilih bergerak dari hal sederhana: menampung air hujan.
Adalah Sri Wahyuningsih (58), atau akrab disapa Bu Ning, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang sejak lebih dari satu dekade terakhir konsisten mengampanyekan pemanfaatan air hujan sebagai solusi ketahanan air masyarakat.
Bagi Bu Ning, air bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian penting dari kebudayaan dan masa depan bangsa. "Sekarang masyarakat sangat bergantung pada air tanah, tetapi belum memiliki kesadaran untuk mengembalikan air itu ke dalam tanah. Padahal populasi terus bertambah dan kebutuhan air makin besar,” ujar Bu Ning saat ditemui di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Yogyakarta, Selasa (12/5/2026).
Kesadaran itu mulai tumbuh sekitar 15 tahun lalu ketika ia melihat ironi yang terjadi di Indonesia. Di musim hujan, banjir datang hampir setiap tahun, sementara saat kemarau masyarakat justru kesulitan air bersih. "Indonesia punya dua musim dengan potensi air luar biasa. Tapi saat hujan banjir, saat kemarau kekeringan. Dari situ kami mulai berpikir bagaimana masyarakat punya lumbung air sendiri," katanya.
Berangkat dari gerakan keluarga dan latar belakang sebagai pedagang pasar tradisional, Bu Ning bersama sejumlah rekannya mendirikan Komunitas Banyu Bening pada 2012. Komunitas itu kemudian berkembang menjadi ruang edukasi dan gerakan sosial tentang konservasi air hujan.
Pada 9 September 2019, Sekolah Air Hujan Banyu Bening resmi diresmikan sebagai tempat edukasi nonformal bagi masyarakat yang ingin belajar pengelolaan air hujan dan mitigasi bencana hidrometeorologi. "Kami memakai istilah sekolah supaya orang penasaran dan tertarik datang belajar," ujarnya dengan semangat.
Tak hanya mengajarkan teknik pemanfaatan air hujan, Sekolah Air Hujan juga membangun pendidikan karakter melalui Sanggar Banyu Bening untuk anak-anak. Di tempat itu, anak-anak dikenalkan kembali pada budaya Jawa, tradisi sungkem, unggah-ungguh, hingga kebiasaan ramah lingkungan seperti membawa tumbler dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Anak-anak juga diajak menjaga kreativitas melalui program “Cerita dari Rumah”, yakni kegiatan menulis tangan tanpa gadget setiap tiga bulan sekali. "Kami ingin anak-anak tetap punya karakter, dekat dengan budaya, dan peduli lingkungan," kata Kamaludin atau akrab disapa Pak Udin, Kepala Sekolah Banyu Bening.
Dalam pengelolaan air, Bu Ning memperkenalkan konsep “lumbung air”, yakni menabung air hujan saat musim penghujan untuk digunakan ketika musim kemarau tiba.
Ia juga mengembangkan teknologi sederhana bernama ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) yang memungkinkan masyarakat menampung air hujan secara higienis tanpa bergantung penuh pada air tanah.
Teknologi tersebut kini telah diterapkan di berbagai daerah, mulai dari Gunungkidul, Makassar, Minahasa, Bandung, Surabaya, hingga lingkungan Keraton Yogyakarta. "Harapannya masyarakat bisa punya akses air yang mudah dan gratis tanpa harus mengeksploitasi air tanah terus-menerus," ujar Sri Wahyuningsih.
Di rumahnya, Bu Ning menampung air hujan menggunakan toren dengan kapasitas total sekitar 20 ribu liter. Air hujan yang ditampung melewati beberapa tahap filtrasi menggunakan teknologi “Gama Rain Filter” sebelum masuk ke proses pemurnian. "Filter pertama untuk menyaring kotoran dan hewan kecil. Filter kedua memisahkan air hujan awal agar tidak masuk ke tampungan utama. Ketiga, sebelum masuk tandon difilter lagi," jelasnya.
Setelah itu, air diproses melalui metode elektrolisis menggunakan alat rakitan sederhana. Proses elektrolisis memecah molekul air menjadi unsur hidrogen dan oksigen sehingga menghasilkan air dengan kualitas layak minum. "Sederhananya, kami memanfaatkan air hujan dan mengubahnya menjadi air yang bisa diminum tanpa harus direbus," kata Bu Ning.
Selain digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, air hasil elektrolisis juga dimanfaatkan dalam aktivitas terapi kesehatan di Komunitas Banyu Bening. Dari anak sekolah, dewasa, pasien hingga lansia dapat memanfaatkan air dari Banyu Bening secara gratis.
Menurut Bu Ning, air hasil elektrolisis memiliki struktur molekul yang lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh. Tentunya khasiatnya baik untuk metabolisme tubuh. Banyu Bening menyediakan dua jenis air yang diproses dari hujan. Jenis air hujan basa dengan pH tinggi (7-8). Air basa mengandung antioksidan yang efektif menetralkan radikal bebas, mempercepat recovery sel dan organ tubuh serta menurunkan stress karena mampu menyeimbangkan keseimbangan enzym dalam tubuh.
Adapun, air hujan asam yang mengandung pH rendah memiliki kandungan oksigen tinggi sehingga bisa dipakai sebagai pembersih luka dari bakteri, obat kumur gigi dan sariawan, membangun imunitas tubuh dengan takaran dan syarat tertentu, bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik cair.
Perjalanan panjang itu akhirnya mendapat pengakuan. Pada 2024, Komunitas Banyu Bening menerima Kehati Award kategori Climate Change, salah satu penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup. Namun bagi Bu Ning, penghargaan terbesar bukanlah trofi atau sertifikat. "Penghargaan tertinggi bagi kami adalah ketika masyarakat mulai sadar kondisi air hari ini dan tahu apa yang harus dilakukan," tuturnya.
Satu hal, ia berharap gerakan konservasi air hujan dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan air dan memperkuat kemandirian masyarakat menghadapi perubahan iklim. Ini sejalan dengan program prioritas nasional untuk menjalankan lingkungan berkelanjutan.