SLEMAN, InfoPublik - Gemuruh deru mesin diesel kembali menghidupkan napas pelataran rumah produksi milik Slamet di Dusun Kwagon, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean, Sleman, Kamis (29/10/2026).
Tumpukan lempung yang semula tertutup terpal plastik kini mulai diolah secara masif menjadi genteng tanah liat seiring dengan bergeliatnya kembali denyut industri rumahan di kawasan tersebut.
Sempat terpuruk akibat lesunya pasar properti selama beberapa tahun terakhir, urat nadi perekonomian para pengrajin tradisional kini berdetak lebih kencang merespons pesanan.
Lonjakan permintaan ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan kawasan perumahan komersial serta masifnya intervensi pemerintah melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di berbagai daerah.
Meski demikian, angin segar kebangkitan ekonomi lokal ini berbenturan langsung dengan ancaman penurunan kualitas bahan baku lempung primer yang didatangkan dari Gunung Kwagon.
Perubahan drastis pada tekstur tanah liat yang tak lagi selentur masa lalu memaksa para pengrajin untuk menerapkan perlakuan teknis lebih rumit pada tahap awal pencampuran.
Demi menjamin mutu dan kekuatan material, Slamet terpaksa mengoperasikan tiga mesin penggiling secara bersamaan dari yang sebelumnya hanya membutuhkan dua mesin standar.
Penambahan kapasitas mekanis tersebut bertujuan meramu adonan tanah agar jauh lebih padat sehingga mempercepat laju pengeringan dan mencegah risiko genteng retak saat dibakar.
Dedikasi panjang melestarikan tradisi selama lebih dari tiga dekade ini turut menjadi pilar kehidupan bagi sedikitnya 12 pekerja lokal yang menggantungkan nasib di sana.
Dalam setiap siklus penggilingan massal, belasan buruh tersebut saling berbagi peran untuk mencetak hingga 20.000 genteng mentah yang kemudian ditumpuk rapi di dalam tobong pembakaran.
Perjuangan mempertahankan usaha warisan ini tidaklah mudah mengingat harga jual genteng tradisional di pasaran cenderung stagnan di tengah tren lonjakan ongkos bahan baku.
Himpitan ketidakpastian ekonomi tersebut bahkan sempat membuat laju produksi merosot drastis dan memaksa sebagian buruh cetak beralih profesi untuk menyambung hidup.
Salah seorang pekerja, Atun, membenarkan, tren penjualan produk kini perlahan menanjak meski harus menghadapi persaingan dari produk luar daerah yang memalsukan bentuk.
Merespons kebingungan konsumen atas produk tiruan tersebut, para pengrajin setempat bersepakat mematenkan kode "GODEAN SMS 01" sebagai penanda otentik genteng asli buatan Dusun Kwagon.
Di balik hiruk-pikuk kebangkitan produksi yang mulai stabil, bayang-bayang ancaman krisis material jangka panjang terus menghantui benak para pelaku sejarah tanah liat ini.
"Saat ini kami masih bisa memenuhi pesanan walau dengan bahan baku yang ada, namun bagaimana jadinya jika material di Gunung Kwagon besok sudah habis?" keluh Slamet merenungkan nasib usahanya.
Kelangsungan hidup industri genteng Kwagon sejatinya merepresentasikan pertarungan panjang antara pemenuhan kebutuhan ekonomi dan pelestarian identitas perajin akar rumput yang kian tergerus zaman.
Keterlibatan otoritas daerah dalam merumuskan peta jalan kelestarian bahan baku alternatif kini sangat dinantikan agar tradisi tanah liat ini tidak lekang dimakan waktu. (MC Kab. Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Ony)