Jakarta, InfoPublik - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 Gigawatt (GW) mampu menekan ketergantungan impor energi nasional hingga mencapai USD28,9 miliar, sekaligus memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, melalui keterangan resmi, Senin (3/8/2026).
Untuk itu, Bahlil menegaskan, megaproyek transisi energi telah memiliki peta jalan yang matang, dan telah diakomodasi ke dalam dokumen perencanaan ketenagalistrikan nasional. "Kami buat masterplan dengan perencanaan. Saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 GW. Mungkin kita akan buat di Bali," kata Bahlil.
Menteri Bahlil memastikan, proyek PLTS 100 GW tersebut sudah secara resmi masuk ke dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 milik PT PLN (Persero).
Sebagai langkah awal, pemerintah melakukan percepatan untuk pengembangan kapasitas 17 GW. Untuk itu, Kementerian ESDM bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) bahkan telah menyiapkan lahan seluas 24 ribu hektare di Pulau Jawa.
Sedangkan, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah akan menghubungkan pembangkit di lahan tersebut dengan infrastruktur jaringan transmisi serta gardu induk milik PLN.
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengajak perusahaan China untuk berinvestasi dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) di Indonesia.
"Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata. Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia-China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, dan pencapaian target penurunan emisi," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Sabtu 18 Juli 2026.