Jakarta, InfoPublik — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan bahwa pengembangan startup digital tetap menjadi salah satu strategi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memanfaatkan bonus demografi Indonesia.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kemkomdigi, Sonny Hendra Sudaryana, mengatakan sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT) telah menunjukkan kontribusi yang terus meningkat terhadap perekonomian nasional dalam satu dekade terakhir.
"Sektor ICT sepuluh tahun lalu berkontribusi sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada 2025 kontribusinya meningkat menjadi sekitar 5,4 persen. Ini menjadi fondasi dari seluruh pembahasan mengenai ekonomi digital hari ini," ujar Sonny dalam sesi diskusi Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan kontribusi langsung sektor ICT. Berbagai studi menunjukkan nilai ekonomi digital Indonesia telah menembus sekitar 100 miliar dolar Amerika Serikat dan terus menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Namun demikian, Sonny menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena sebagian besar nilai ekonomi digital belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
Ia mengungkapkan sekitar 73 hingga 80 persen nilai ekonomi digital masih mengalir keluar Indonesia, terutama pada sektor layanan digital dan platform global yang mendominasi konsumsi masyarakat.
"Kita masih menghadapi tantangan bagaimana menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia," katanya.
Selain itu, Sonny menyoroti tingginya konsumsi konten digital yang belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi optimal. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah maraknya distribusi konten ilegal yang mengurangi potensi penerimaan industri kreatif dan ekonomi digital nasional.
Dalam konteks pengembangan startup, Sonny melihat Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi dan dominasi generasi muda yang melek teknologi.
Menurutnya, lebih dari separuh penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif yang memiliki tingkat adopsi teknologi digital tinggi. Kondisi tersebut menjadi sumber energi besar bagi pertumbuhan perusahaan rintisan berbasis teknologi.
Indonesia juga pernah menjadi perhatian investor global ketika berhasil melahirkan sejumlah perusahaan rintisan berstatus unicorn pada gelombang pertama perkembangan startup nasional.
Meski demikian, Sonny mengingatkan bahwa keberhasilan startup tidak cukup hanya diukur dari kecepatan pertumbuhan dan besarnya pendanaan yang diperoleh.
Ia menilai banyak startup menghadapi tantangan tata kelola perusahaan (good governance) dan akuntabilitas, terutama ketika memperoleh investasi dalam jumlah besar pada usia perusahaan yang masih sangat muda.
"Sering kali pendiri startup yang masih berusia muda harus mengelola investasi dalam jumlah sangat besar dengan tuntutan pertumbuhan yang tinggi. Di sinilah tantangan tata kelola dan akuntabilitas menjadi sangat penting," ujarnya.
Karena itu, Kemkomdigi mendorong terciptanya keseimbangan antara inovasi, pertumbuhan bisnis, dan penguatan tata kelola perusahaan agar startup dapat berkembang secara berkelanjutan.
Sonny menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia pendiri startup menjadi agenda penting yang harus dilakukan bersama.
Menurutnya, pengembangan ekosistem startup tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan memerlukan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas inovasi, dan pemerintah.
"Kita membutuhkan kolaborasi tiga sektor, yaitu akademisi, bisnis, dan pemerintah untuk menyiapkan para founder agar memiliki kualitas, kapasitas, dan kepemimpinan yang lebih baik," katanya.
Di sisi lain, Sonny juga menyoroti perubahan pola investasi nasional yang semakin mengarah pada sektor padat modal. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, investasi sebesar Rp1 triliun pada 2013 mampu menciptakan sekitar 4.500 lapangan kerja. Namun pada tahun lalu, nilai investasi yang sama hanya menghasilkan sekitar 1.400 lapangan kerja.
Artinya, kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja mengalami penurunan hingga sekitar 76 persen dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi dari sektor padat karya menuju sektor padat modal yang banyak dipengaruhi perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Meski demikian, Sonny menilai sektor digital memiliki karakteristik unik yang mampu menciptakan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan jumlah tenaga kerja langsung yang diserap.
Sebagai contoh, sebuah pusat data modern dapat beroperasi hanya dengan jumlah tenaga kerja yang relatif sedikit. Namun di sisi lain, perusahaan digital berbasis platform mampu menciptakan efek berantai yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengembangan usaha masyarakat.
Ia mencontohkan perusahaan teknologi nasional seperti Gojek yang mampu membuka peluang ekonomi bagi jutaan mitra pengemudi sekaligus membantu jutaan pelaku usaha mikro dan kecil untuk masuk ke dalam ekosistem digital.
"Startup memiliki kekuatan untuk menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan UMKM dalam skala yang sangat besar. Karena itu kami tetap melihat startup sebagai salah satu engine of growth Indonesia," tegasnya.
Menurut Sonny, peran startup akan semakin penting dalam menghadapi tekanan ketenagakerjaan yang muncul seiring meningkatnya jumlah penduduk usia produktif selama periode bonus demografi.
Penguatan ekosistem startup nasional juga sejalan dengan pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam mendorong transformasi digital, memperkuat kewirausahaan berbasis inovasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan kualitas talenta digital, pemerintah berharap startup nasional tidak hanya tumbuh menjadi perusahaan bernilai tinggi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.