Jakarta, InfoPublik - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, pentingnya percepatan capaian target transisi energi hijau di Indonesia guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil secara signfikan.
Langkah strategis itu diambil mengingat sektor industri dan transportasi pengguna energi fosil saat ini menjadi kontributor emisi karbon terbesar yang berdampak buruk pada lingkungan.
Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, melalui keterangan resmi, dalam seminar nasional "Electric Vehicle Technology and Battery Acceleration Talk (ELECTRA) 2026" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Politeknik STMI Jakarta di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Satya Hangga Yudha menyatakan, pemerintah tengah fokus memastikan seluruh ekosistem kendaraan listrik (EV) disuplai oleh pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), bukan lagi dari pembangkit berbasis fosil.
Langkah itu krusial agar esensi ramah lingkungan dari kendaraan listrik dapat terpenuhi secara utuh dari hulu ke hilir. "Oleh karena itu, penting untuk menekan emisi dengan energi hijau," ujar Satya Hangga Yudha.
Menurut Hangga Satya Yudha, efisiensi penggunaan kendaraan listrik sudah terbukti di lapangan.
Sebagai contoh, di tengah kemacetan Jakarta, penggunaan EV mampu menghemat pengeluaran biaya bahan bakar secara signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Kendati demikian, pemerintah tetap mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan transportasi umum massal yang hemat dan ramah lingkungan seperti Transjakarta, KRL, dan MRT.
Saat ini, pertumbuhan ekosistem EV di Indonesia menunjukkan tren positif dengan jumlah kepemilikan mencapai lebih dari 350.000 unit, yang didominasi oleh kendaraan roda dua serta tren pertumbuhan roda empat berbiaya terjangkau. Menanggapi pertumbuhan tersebut, pemerintah juga mulai memetakan pengelolaan limbah secara serius. "Aspek pengelolaan limbah dan daur ulang baterai litium kini menjadi fokus yang sedang dipetakan serius di Indonesia untuk memastikan siklus hidup kendaraan listrik benar-benar bersih dan berkelanjutan," kata Tenaga Ahli Menteri ESDM.
Selain ekosistem kendaraan listrik, Kementerian ESDM juga tengah mengejar target ambisius ketahanan energi nasional dari sektor kelistrikan, salah satunya adalah pemenuhan kapasitas panel surya sebesar 100 GW.
Untuk mendukung visi besar Presiden RI tersebut, sejumlah sinkronisasi program nasional terus berjalan.
Program-program tersebut meliputi dedieselisasi pembangkit listrik di pulau terpencil, program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), serta program Listrik Desa (Lisdes) berbasis energi surya untuk menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang tidak ramah lingkungan.