Jakarta, InfoPublik – Posko Monitoring Kualitas Layanan Telekomunikasi dan Spektrum Frekuensi Radio periode Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026 berhasil menjaga stabilitas layanan komunikasi nasional selama masa arus mudik dan balik Lebaran.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Dirjen Infradigi Kemkomdigi), Wayan Toni Supriyanto, menyatakan bahwa keberadaan posko menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memastikan masyarakat tetap terhubung pada momen penting Idulfitri. “Posko ini merupakan wujud nyata komitmen kita bersama hadir di tengah masyarakat pada momen yang paling berarti, di mana masyarakat melakukan perjalanan mudik dan merayakan Idulfitri bersama keluarga,” ujarnya saat penutupan posko di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Turut hadir dalam acara penutupan posko ini, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya.
Posko RAFI 2026 beroperasi selama 18 hari, mulai 13 hingga 30 Maret 2026, dengan melibatkan tim gabungan dari Ditjen Infrastruktur Digital, Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio di seluruh Indonesia, serta operator seluler.
Sebanyak 35 posko pemantauan didirikan di berbagai wilayah, termasuk sembilan titik strategis nasional seperti bandara, stasiun, rest area tol, dan pelabuhan utama yang menjadi simpul pergerakan pemudik.
Pada kesempatan itu, Direktur Pengendalian Infrastruktur Digital Kemkomdigi, Indra Maulana, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan melalui pengukuran kualitas layanan (Quality of Service/QoS), baik secara statis maupun bergerak, serta pengawasan spektrum frekuensi radio. “Secara umum, konektivitas nasional terpantau dalam kondisi stabil dan mampu mengakomodasi peningkatan trafik selama periode RAFI 2026,” jelasnya.
Hasil pengukuran menunjukkan kecepatan unduh tertinggi mencapai 112,16 Mbps dan unggah tertinggi 54,26 Mbps. Sementara itu, sebanyak 33 gangguan layanan yang teridentifikasi di sejumlah titik berhasil ditangani dengan cepat oleh operator seluler.
Selain memastikan kualitas jaringan, posko juga melakukan pengawasan terhadap 31.682 frekuensi radio yang digunakan untuk berbagai kepentingan, termasuk transportasi darat, laut, dan udara. Hasilnya, hampir seluruh frekuensi terpantau berizin dan sesuai peruntukan.
Kemkomdigi juga memastikan tidak ditemukan indikasi penyalahgunaan perangkat ilegal seperti fake BTS selama periode pemantauan.
Dalam situasi kepadatan tinggi, seperti di Pelabuhan Ciwandan, Banten, operator seluler segera melakukan peningkatan kapasitas jaringan untuk menjaga kualitas layanan tetap optimal.
Selain pemantauan teknis, posko juga mengumpulkan testimoni masyarakat sebagai bahan evaluasi dan peningkatan layanan ke depan.
Wayan Toni menegaskan bahwa keberhasilan Posko RAFI 2026 menjadi fondasi penting dalam memperkuat kebijakan layanan telekomunikasi nasional ke depan. “Seluruh rangkaian posko telah berjalan dengan baik dan menjadi bentuk keterbukaan serta evaluasi bersama untuk menghadirkan layanan telekomunikasi yang semakin berkualitas,” ujarnya.
Melalui posko ini, pemerintah memastikan masyarakat tetap dapat berkomunikasi dengan lancar selama momen Lebaran, sekaligus menjaga aspek keselamatan transportasi yang bergantung pada keandalan spektrum frekuensi radio.