Waspadai MERS-CoV, Jemaah Haji Diimbau Hindari Kontak dengan Unta

: Jemaah Haji Indonesia bersama PPIH Arab Saudi/Foto: Kemenkes


Oleh Putri, Kamis, 16 Mei 2024 | 21:29 WIB - Redaktur: Untung S - 158


Jakarta, InfoPublik - Jemaah haji Indonesia perlu mewaspadai penularan Sindrom Pernapasan Timur Tengah (Middle East respiratory syndrome/MERS) yang disebabkan oleh MERS Coronavirus (MERS-CoV).

MERS-CoV telah diidentifikasi dan dikaitkan dengan infeksi manusia dari unta tunggangan di beberapa negara Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Sebagian besar kasus konfirmasi MERS mengalami sindrom saluran pernapasan akut yang berat.

Gejala awal yang paling sering ditemukan, yaitu demam, batuk, dan sesak napas. Beberapa kasus juga bergejala diare dan mual atau muntah. Selain itu, komplikasi parah yang terjadi dapat berupa pneumonia dan gagal ginjal.

Direktur Surveilans Karantina Kesehatan Kemenkes Achmad Farchanny melalui keterangan resminya Kamis (16/5/2024) menyampaikan jemaah haji yang merasa demam atau tidak enak badan harus melaporkan kondisinya kepada Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

“Semua penyakit menular karena virus dan bakteri pada umumnya didahului dengan demam. Kalau nanti disana ada yang mulai tidak enak badan, mulai meriang, harus segera lapor ke TKHI-nya di kloter untuk mendapatkan pemeriksaan dan diobati lebih lanjut,” kata Farchanny.

Lanjutnya, apa bila harus ditindak lanjuti tentunya akan dibawa ke Pusat Kesehatan Haji di Makkah dan Madinah. Setelahnya diperiksa ternyata harus ditangani lebih lanjut lagi, maka jemaah akan dikirim ke rumah sakit.

Ketika jemaah haji diperiksa oleh petugas kesehatan atau dokter, kata Farchanny pertanyaan yang akan digali lebih dalam meliputi riwayat kontak jemaah dengan unta serta riwayat konsumsi produk-produk dari unta.

Kemudian digali lagi, riwayat kegiatan jemaah haji kita ini, pernah jalan-jalan ke peternakan unta di sana atau tidak. Kalau itu ada, sudah menjadi indikasi kuat untuk pengawasan dan pemeriksaan lebih lanjut

"Artinya, harus dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan PCR dan lain-lain dan harus (dilakukan) di rumah sakit,” kata Farchanny.

Potensi penularan MERS-CoV, lanjutnya terutama adalah penularan dari hewan pembawa virus ke manusia. Akan tetapi, ada kemungkinan penularan dari manusia ke manusia, kriterianya pertama ketika terjadi kontak erat antara pasien dengan anggota keluarganya di rumah.

Kedua, adanya kontak erat si pasien dengan petugas kesehatan di fasikitas layanan kesehatan. Meski begitu, kata Farchanny potensi penularan dari manusia ke manusia itu tetap terbuka, seperti ketika sedang jalan-jalan ke pasar atau sedang ibadah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

"Penularan antar-manusia lewat droplet, ya, dari seseorang bicara, kemudian droplet-nya menyentuh ke orang yang sehat. MERS-CoV sangat berpotensi kena apabila terjadi kontak erat yang lama," kata Farchanny.

Menilik potensi penularan MERS-CoV, Farchanny mengimbau agar para jemaah haji senantiasa melakukan pencegahan. Pertama, selalu memakai masker ketika berada di tempat-tempat keramaian.

Kedua, selalu menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama cuci tangan pakai sabun atau memakai penyanitasi tangan (hand sanitizer). Ketiga, hindari kontak dengan unta.

“Jangan sering jalan-jalan di sana, ke pasar cari oleh-oleh, apalagi kalau jalan-jalannya ke peternakan unta. Fokuslah dengan ibadahnya, ke Masjid Nabawi atau ke Masjidil Haram untuk ibadah,” pesan Farchanny.

Kemudian hindari mengonsumsi produk-produk unta secara mentah, diperbolehkan meminum susu unta namun harus dimasak terlebih dahulu. Kemudian mengkonsumsi daging unta seperti sate diperbolehkan namun harus dimasak hingga matang.

Jika terlanjur berkontak dengan unta, kata Farchanny misalnya berfoto naik unta dan bersentuhan langsung dengan badan unta, segera bersihkan tangan dengan penyanitasi tangan atau cuci tangan pakai sabun.

“Selain itu, tetap jaga kondisi fisik, karena ibadah haji, ibadah fisik di sana. Jangan lupa istirahat yang cukup, jangan diforsir untuk jalan-jalan. MERS-CoV itu virus, kalau daya tahan tubuh kita bagus, potensi penularannya akan kecil,” kata Farchanny.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:10 WIB
Kemenkes Komitmen dalam Peningkatan Layanan Bedah Saraf
  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 15:29 WIB
Wamenkes RI Tekankan Obat Harus sampai ke Daerah Terpencil
  • Oleh Putri
  • Selasa, 11 Juni 2024 | 21:24 WIB
KKHI Makkah Fasilitasi Jemaah Sakit Jalani Safari Wukuf