Jakarta, InfoPublik – Menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks dan lintas batas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan International Center of Excellence for Disaster Risk Reduction and Resilience Research (ICED4R), pusat unggulan internasional yang berfokus pada penelitian pengurangan risiko dan ketahanan bencana.
Peluncuran ICED4R berlangsung bersamaan dengan The 1st BRIN–NIED Annual Disaster Risk Reduction (DRR) Workshop di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (4/9/2026). Kehadiran pusat ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi riset jangka panjang sekaligus menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menghadapi ancaman bencana, terutama bahaya geologi.
Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Luki Subehi, mengatakan pembentukan ICED4R merupakan langkah untuk membangun jejaring penelitian yang mampu menjembatani teknologi pengamatan, ilmu pengetahuan, dan kebijakan dalam menghadapi risiko bencana.
Inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari Simposium Bahaya Geologi Inggris-PBB 2025 yang sebelumnya digelar di BRIN. Sejak itu, kolaborasi penelitian kebencanaan terus dikembangkan, termasuk melalui proyek sistem peringatan dini dan berbagai agenda riset baru yang berfokus pada bahaya geologi. “Menangani peningkatan risiko multi-bahaya dan lintas batas membutuhkan sinergi yang mulus antara teknologi pengamatan mutakhir, untuk sains, dan kebijakan yang berpusat pada masyarakat,” ujar Luki.
Menurutnya, karakter bencana saat ini semakin kompleks. Satu wilayah dapat menghadapi lebih dari satu ancaman secara bersamaan, sementara dampaknya dapat melampaui batas administratif maupun negara. Kondisi tersebut membuat riset kebencanaan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Karena itu, ICED4R diharapkan tidak berhenti sebagai wadah penelitian, tetapi berkembang menjadi ruang untuk merumuskan program strategis yang dapat diterapkan dalam pengurangan risiko bencana. Hasil penelitian diharapkan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih aman dan tangguh, mulai dari tingkat kota, keluarga, hingga wilayah.
Direktur Eksekutif Integrated Research on Disaster Risk (IRDR) Jepang, Prof. Saini Yang, mengapresiasi pembentukan ICED4R sebagai langkah penting bagi penguatan jejaring penelitian pengurangan risiko bencana internasional.
Menurut Saini, kehadiran pusat unggulan tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk mengembangkan penelitian dan tata kelola risiko bencana yang berbasis bukti. Posisi Indonesia juga strategis karena memiliki pengalaman menghadapi berbagai jenis bencana sekaligus menjadi bagian dari kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Indonesia dan Jepang, kata dia, memiliki sejumlah profil risiko yang serupa, antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, dan bahaya gunung berapi. Kesamaan tersebut membuka ruang besar bagi pengembangan riset bersama yang lebih aplikatif.
Memperdalam Kerja Sama RI-Jepang
Saini mendorong BRIN dan National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED) Jepang memperdalam kerja sama melalui pertukaran data, metodologi, dan keahlian. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan solusi yang tidak hanya relevan bagi kedua negara, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah lain yang menghadapi ancaman serupa. “Penelitian dan inovasi yang dikembangkan melalui kemitraan ini tidak hanya akan bermanfaat bagi Indonesia dan Jepang, tetapi juga menawarkan model adaptif untuk keadaan darurat di sekitar wilayah serta seluruh dunia,” katanya.
Menurut Saini, tantangan pengurangan risiko bencana tidak berdiri sendiri. Perubahan iklim, bahaya yang dipicu aktivitas manusia, tekanan pembangunan, serta meningkatnya kerentanan kawasan perkotaan saling berkelindan dan berpotensi memperbesar dampak bencana.
Karena itu, penguatan ketahanan bencana membutuhkan jejaring penelitian yang lebih luas dengan melibatkan peneliti dan praktisi dari berbagai kawasan. Melalui ICED4R, Indonesia berpeluang memperkuat perannya dalam ekosistem riset kebencanaan global sekaligus mendorong pengetahuan dan inovasi agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pusat unggulan BRIN diharapkan menjadi salah satu penghubung antara riset, teknologi, dan kebijakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengantisipasi risiko, merespons bencana, serta mempercepat pemulihan setelah bencana terjadi.