Begini Skenario Dampak Kehadiran Bendungan Pamukkulu

:


Oleh DT Waluyo, Rabu, 17 November 2021 | 14:47 WIB - Redaktur: Untung S - 997


Takalar, InfoPublik — Bendungan Pamukkulu. Begitu nama bendungan di bagian hulu Sungai Pappa Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak 15 November 2017, dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pertanian di Sulsel.

Agar tujuan itu tercapai, Kementerian PUPR bekerja keras melakukan percepatan. Harapannya, progres konstruksi yang saat ini mencapai 22 perseb, dikebut sehingga dapat diairi pada awal 2024.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, bendungan ini dibangun untuk meningkatkan keberlangsungan suplai air bagi lahan pertanian di Provinsi Sulsel sebagai lumbung pangan nasional.“Di Sulsel, masih terdapat hamparan lahan persawahan di atas 3.000 hektar yang sulit ditemui di daerah lain. Produktivitasnya kita tingkatkan dengan ketersediaan air dari bendungan,” kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (15/11/2021).

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang Adenan Rasyid mengatakan,”Bendungan Pamukkulu memiliki beberapa manfaat yang luar biasa, yaitu dapat mensuplai air untuk jaringan irigasi seluas 6.256 hektar. Diharapkan Indek Pertanian (IP) di Kabupaten Takalar akan meningkat dari 150 persen menjadi 250 persen dengan pola tanam padi - padi - palawija".

“Manfaat lain dari Bendungan Pamukkulu adalah sebagai penyedia air baku untuk Kabupaten Takalar sebesar 160 liter/detik, dapat mereduksi dan mengendalikan ancaman banjir, dan sebagai konservasi untuk air tanah. Kemudian bendungan ini juga memiliki potensi untuk pembangkit listrik tenaga air sebesar 4,3 MW, serta dapat dimanfaatkan untuk pariwisata,” terang Adenan Rasyid pada kegiatan presstour bersama Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR, Rabu (10/11/2021)

Bendungan Pamukkulu dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, didesain dengan tipe Urugan Batu Membran Beton (UBM) atau Concrete Face Rockfill Dam (CFRD). Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 82,5 juta meter kubik dengan tinggi mencapai 65,50 meter dan lebar 8 meter.

Pelaksanaan pembangunan Bendungan Pamukkulu dikerjakan dengan anggaran senilai Rp1,6 miliar melalui 2 paket pekerjaan. Paket 1 pekerjaan berupa sandaran kanan dan kiri, pengeboran angkur plinth, quarry area dengan kontraktor, PT. Wijaya Karya (Persero) - PT. Jaya Mulia Turangga (KSO). Sedangkan untuk paket 2 pekerjaan berupa terowongan inlet, outlet, invert terowongan, crown terowongan, spillway, plinth, intake, dan pemasangan SR dengan kontraktor PT. Nindya Karya - PT. Virama Wilayah V.

Air dari Bendungan Pamukkulu mengalir ke Daerah Irigasi (DI) Pamukkulu yang memiliki 19 ruas saluran terdiri dari irigasi primer sepanjang 16,68 km dengan lebar bervariasi antara 1-7 meter (kondisi existing). Saluran primer Pamukkulu tersebut terkoneksi dengan Saluran Suplesi Cakura, Saluran Sekunder Cakura, dan Saluran Suplesi Jenemarung, dan Saluran Primer Jenemarung kanan.

Adenan Rasyid menambahkan, dalam pembangunannya Bendungan Pamukkulu juga menerapkan pola Padat Karya Tunai (PKT).“Kegiatan PKT dilakukan untuk rehabilitasi saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Bendung Pamukulu. Kegiatan ini dilakukan melalui program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air dan Irigasi (P3TGAI) yang tersebar di 20 titik di 7 desa, 1 kelurahan dan 1 kecamatan. Setiap titiknya melibatkan sebanyak 25 orang petani," terang Adenan Rasyid.

Kegiatan PKT juga dilakukan pada konstruksi Bendungan Pamukkulu, yaitu untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus (kompleks) dan dapat dilakukan tanpa alat berat, misalnya untuk galian saluran dan menyusun batu urugan," Kami melibatkan masyarakat/warga setempat sebagai pelaku pembangunan. Skema ini bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran dampak dari Pandemi COVID-19," tandas Adenan Rasyid. (*)

Ilustrasi, progres pembangunan Bendungan Pamukkulu di bagian hulu Sungai Pappa Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan (Dok. Kementerian PUPR)