Jakarta, InfoPublik — Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan riset vaksin malaria serta penerapan teknologi pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan desa. Arahan tersebut disampaikan saat menerima laporan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Arif mengatakan BRIN tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Dukungan Presiden diharapkan dapat mempercepat penyelesaian pengembangan vaksin hingga tiga tahun dari jadwal semula.
“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ujar Arif.
Menurutnya, pengembangan tersebut berpotensi menjadi kontribusi Indonesia dalam penanganan malaria, termasuk riset terhadap parasit Plasmodium vivax.
Selain vaksin, BRIN menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk dikembangkan menuju fitofarmaka sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian obat nasional.
“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka. Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT, Obat Herbal Terstandarisasi. Sekarang ingin menuju pada fitofarmaka,” ucapnya.
Dalam penanganan sampah, Arif menyampaikan bahwa Presiden meminta teknologi hasil riset segera diterapkan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melibatkan perguruan tinggi dalam membantu pengelolaan sampah di desa.
“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi-teknologi level rumah tangga dan level desa ini segera diimplementasikan. Karena BRIN memang bukan lembaga yang memang bertugas memproduksi. Kita hanya membuat prototype, tapi kita ingin memastikan bahwa prototype yang kita buat ini membawa manfaat dan bisa digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Penerapan teknologi tersebut diharapkan mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Presiden.
Pada pertemuan yang sama, Arif melaporkan potensi pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong sawit menjadi biogas serta listrik. Menurutnya, potensi konversi limbah tersebut menjadi listrik mencapai sekitar 3,9 gigawatt.
Ia juga menyampaikan peluang pemanfaatan biogas untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor LPG.
“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” ucap Arif.
Terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BRIN berkolaborasi dengan BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI Angkatan Udara dalam Operasi Modifikasi Cuaca, termasuk melalui penggunaan es kering atau dry ice.
Arif mengatakan Presiden juga menekankan perlunya riset jangka menengah dan panjang untuk mengantisipasi karhutla. Salah satunya melalui pengembangan model perambatan api.
“Bapak Presiden juga menekankan pentingnya riset jangka menengah, kemudian riset jangka panjang bagaimana mengantisipasi di masa depan, termasuk di dalamnya adalah mencari model-model perambatan api itu seperti apa sebenarnya sehingga kita bisa mengantisipasi di kemudian hari,” tuturnya.