Kota Gorontalo, InfoPublik - Empat domain ortografi dalam penulisan bahasa Gorontalo menjadi bahasan menarik dalam diskusi kelompok terpumpun validasi pakar prototipe panduan ortografi Bahasa Gorontalo versi 0.4 yang dipaparkan ketua tim peneliti pengembangan panduan ortografi Bahasa Gorontalo, Suleman Bouti, yang juga Kepala Pusat Studi (PS) Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Keempat domain adalah konsonan, hentian glotal, glide, dan vokal panjang.
Pada konsonan, bentuk utamanya adalah nt yang banayk diperdebatkan penulisannya di masyarakat, misalnya pada kata Hulontalo, hulonthalo, dan hulondalo. Bahkan ada yang menuliskan Hulontdhalo.
Sedangkan pada hentian glotal bentuk utamanya adalah penggunaan apostrof (‘), glide atau bunyi semivokal yang menjadi transisi halus antara satu vokal dengan vokal lainnya, dab juga penggunaan vokal panjang.
Dalam diskusi ini menghadirkan validator pakar Hermawan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai narasumber pakar untuk menelaah kelayakan akademik dokumen.
“Validasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pernyataan layak atau tidak layak, tetapi terutama memberikan alasan linguistik, perbaikan aturan, tambahan contoh terverifikasi, dan pertimbangan penggunaan sosial, pendidikan, serta digital,” kata Hermawan, Selasa (27/10/2026).
Ketua tim peneliti Suleman Bouti menjelaskan, pengembangan panduan ortografi Bahasa Gorontalo ini merupakan bagian dari penelitian BIMA tahun kedua yang menggunakan pendekatan Research and Development dan prinsip partisipatif.
Tahap Need Analysis dilaksanakan di Kota Gorontalo dan Gorontalo Utara, simulasi terbatas dilakukan di Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah LPPM UNG, sedangkan diskusi kelompok terpumpun Field Testing telah diselenggarakan di enam kabupaten/kota.
“Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan prototipe panduan ortografi Bahasa Gorontalo versi 0.4 sebagai naskah kerja untuk telaah ilmiah,” kata Suleman Bouti.
Dalam Versi 0.4 memuat empat rekomendasi sementara, yaitu representasi konsonan <nt>, penandaan hentian glotal dengan apostrof, penulisan glide, dan penandaan vokal panjang melalui vokal rangkap.
Rekomendasi tersebut masih memerlukan pemeriksaan atas dasar fonologis, ketepatan contoh, cakupan kaidah, konsistensi penerapan, dan posisi variasi terdokumentasi. Diskusi validasi pakar ini diperlukan sebelum penetapan rumusan akademik yang lebih matang.
Suleman menjelaskan diskusi ini difokuskan pada ketepatan linguistik dan konsistensi kaidah, penerimaan bentuk rekomendasi sementara, serta keterpakaian panduan dalam pendidikan, budaya, media, dan ruang digital.
Suleman juga mengungkapakn tujuan kegiatan ini, yaitu untuk memperoleh penilaian pakar terhadap kesahihan linguistik, keterbacaan, dan konsistensi kaidah dalam Prototipe versi 0.4. Mengkaji empat domain ortografi beserta kecukupan dasar empiris dan contoh penggunaannya, menampung tanggapan peserta dari unsur pengguna dan pemangku kepentingan tentang kelayakan penerapan panduan, mengidentifikasi ketentuan yang dapat dipertahankan, perlu direvisi, atau membutuhkan pengujian tambahan, serta menghasilkan rekomendasi tertulis untuk penyempurnaan naskah menuju draf final dan bahan kebijakan. (mcgorontaloprov)