Sidoarjo, InfoPublik – Jauh sebelum Majapahit mengukir kejayaannya, perahu-perahu dagang telah menyusuri aliran Sungai Brantas, membawa hasil bumi dan berbagai komoditas dari pedalaman Jawa Timur menuju kawasan pesisir. Di sepanjang jalur air yang menjadi urat nadi perekonomian abad ke-11 itu, tumbuh sebuah peradaban yang jejaknya masih menyimpan teka-teki sejarah: Kerajaan Jenggala.
Berbeda dengan Majapahit yang dikenal melalui peninggalan monumental dan catatan politiknya, kisah Jenggala banyak ditelusuri melalui prasasti, jaringan perdagangan, serta perubahan bentang alam di kawasan Delta Brantas.
Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo menempati bagian penting dari lanskap tersebut. Berada di kawasan hilir Sungai Brantas, daerah ini memiliki posisi geografis strategis yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan jalur perdagangan pesisir Jawa Timur.
Pada masa itu, sungai bukan sekadar sumber pengairan bagi pertanian. Alirannya menjadi sarana mobilitas penduduk, pengangkutan hasil bumi, serta penghubung aktivitas ekonomi antardaerah.
Beras, garam, hasil hutan, dan berbagai komoditas lainnya diperdagangkan melalui jaringan transportasi air yang berkembang sejak masa pemerintahan Airlangga hingga periode kerajaan-kerajaan penerusnya.
Hujung Galuh, Pelabuhan Kuno dalam Jaringan Perdagangan Brantas
Salah satu nama yang kerap muncul dalam penelusuran sejarah perdagangan Jawa Timur adalah Hujung Galuh, kawasan pelabuhan yang memiliki peran penting dalam jaringan transportasi Sungai Brantas.
Keberadaan Hujung Galuh antara lain berkaitan dengan Prasasti Kamalagyan dari masa pemerintahan Airlangga. Prasasti tersebut memberikan gambaran tentang aktivitas pelayaran, pengangkutan barang, dan hubungan perdagangan antarpulau yang memanfaatkan jalur Sungai Brantas.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian Jawa Timur pada abad ke-11 telah ditopang oleh jaringan distribusi yang menghubungkan kawasan penghasil komoditas dengan para pedagang dan pelaut dari berbagai daerah.
Dalam sejumlah interpretasi sejarah, penguasaan akses perdagangan menuju Hujung Galuh dipandang sebagai salah satu faktor yang berpotensi mendukung kekuatan ekonomi Jenggala.
Namun, letak pasti pelabuhan tersebut masih menjadi perdebatan akademis. Begitu pula hubungan administratif antara Hujung Galuh, pusat pemerintahan Jenggala, dan wilayah Kabupaten Sidoarjo saat ini.
Meski sejumlah lokasi dikaitkan dengan keberadaan pelabuhan kuno tersebut, bukti yang tersedia belum cukup untuk menetapkan satu titik sebagai lokasi Hujung Galuh secara pasti.
Prasasti Kuno Membuka Jejak Kekuasaan Jenggala
Di balik aktivitas perdagangan yang berkembang di kawasan Brantas, sejarah Jenggala juga menyimpan kisah tentang perubahan kekuasaan setelah masa pemerintahan Raja Airlangga.
Kerajaan Jenggala dikenal sebagai salah satu kerajaan penerus Kahuripan, bersama Panjalu atau Kadiri. Rekonstruksi mengenai kemunculan dan perkembangan kedua kerajaan tersebut bertumpu pada sejumlah sumber tertulis dari masa Jawa Kuno.
Salah satu peninggalan penting yang dikaitkan dengan periode awal Jenggala adalah Prasasti Turun Hyang II, bertarikh 966 Saka atau 1044 Masehi.
Prasasti tersebut menyebut nama Mapanji Garasakan, tokoh yang dikenal dalam kajian sejarah sebagai salah satu penguasa awal Jenggala. Isinya juga mencatat pemberian anugerah kepada masyarakat Desa Turun Hyang atas jasa mereka kepada kerajaan.
Selain Turun Hyang II, prasasti Kambang Putih, Malenga, Banjaran, dan Sumengka menjadi bagian dari sumber epigrafis yang digunakan untuk menelusuri perkembangan kekuasaan pada periode tersebut.
Melalui peninggalan tertulis itu, para peneliti berupaya memahami hubungan antarpenguasa, pengaturan wilayah, serta kehidupan sosial dan politik kerajaan.
Walaupun sumber sejarah Jenggala tidak sebanyak peninggalan dari masa Majapahit, keberadaan prasasti-prasasti tersebut memberikan petunjuk tentang aktivitas pemerintahan dan hubungan kekuasaan di Jawa Timur pada abad ke-11 hingga periode sesudahnya.
Benarkah Ibu Kota Jenggala Berada di Sidoarjo?
Pertanyaan mengenai lokasi pusat pemerintahan Jenggala masih menjadi salah satu bagian menarik dalam penelusuran sejarah Sidoarjo.
Secara geografis, kawasan Sidoarjo berada dalam bentang Delta Brantas yang memiliki tanah subur dan jaringan sungai bercabang. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan pertanian, permukiman, serta aktivitas ekonomi masyarakat sejak masa Jawa Kuno.
Sejumlah temuan arkeologis, termasuk struktur bata kuno dan tinggalan permukiman, menunjukkan adanya aktivitas manusia pada periode klasik di kawasan tersebut.
Akan tetapi, keberadaan peninggalan itu belum dapat dijadikan bukti langsung bahwa ibu kota Kerajaan Jenggala terletak di wilayah administratif Sidoarjo modern.
Para peneliti masih perlu memastikan pertanggalan, fungsi bangunan, hubungan antarsitus, serta keterkaitannya dengan struktur pemerintahan Jenggala.
Karena itu, hubungan Sidoarjo dengan Kerajaan Jenggala lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kajian sejarah kawasan Delta Brantas yang terus berkembang, bukan sebagai kesimpulan bahwa pusat kerajaan telah ditemukan.
Prasasti Pucangan dan Upaya Mengungkap Sejarah Airlangga
Upaya memahami kelahiran Jenggala tidak dapat dilepaskan dari sosok Airlangga, penguasa Jawa Timur pada abad ke-11 yang memainkan peran penting dalam pembentukan tatanan politik setelah runtuhnya kekuasaan sebelumnya.
Salah satu rujukan akademis mengenai periode tersebut berasal dari sejarawan dan ahli epigrafi Ninie Susanti melalui buku Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI, yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2010.
Dalam kajiannya, Ninie menggunakan sumber prasasti dan karya sastra untuk merekonstruksi perjalanan kekuasaan Airlangga, termasuk pembaruan dalam bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kehidupan keagamaan.
Prasasti Pucangan menjadi salah satu sumber terpenting karena memuat keterangan mengenai perjalanan hidup dan legitimasi kekuasaan Airlangga. Informasi tersebut membantu peneliti memahami latar belakang politik yang kemudian berkaitan dengan kemunculan Jenggala dan Panjalu.
Pentingnya Prasasti Pucangan juga dibahas oleh sejarawan Peter Carey bersama Nigel Bullough dalam artikel The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816, yang diterbitkan dalam IIAS Newsletter edisi 74 pada 2016.
Artikel tersebut menyoroti nilai historis Prasasti Pucangan sebagai dokumen penting mengenai Airlangga, sekaligus membahas perjalanan prasasti yang kemudian dikenal sebagai Batu Kolkata setelah dibawa keluar dari Jawa pada masa pemerintahan Inggris.
Kajian itu memperlihatkan pentingnya peninggalan tertulis sebagai sumber primer dalam merekonstruksi sejarah Jawa, termasuk ketika membedakan keterangan prasasti, penafsiran akademis, dan cerita yang berkembang dalam tradisi masyarakat.
Warisan Jenggala dalam Bentang Alam Sidoarjo
Berabad-abad setelah masa Jenggala berlalu, kawasan Delta Brantas tetap menjadi bagian penting dari perkembangan kehidupan masyarakat Jawa Timur.
Jaringan sungai yang dahulu dimanfaatkan untuk transportasi dan perdagangan turut membentuk pola permukiman, kawasan pertanian, serta hubungan ekonomi antara pedalaman dan pesisir.
Perubahan kekuasaan dari masa Kahuripan, Jenggala, dan Panjalu hingga kemunculan Singhasari dan Majapahit menunjukkan perjalanan panjang sejarah politik serta perekonomian Jawa Timur.
Meski setiap kerajaan memiliki pusat kekuasaan dan perkembangan yang berbeda, kawasan Brantas tetap memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat sepanjang periode tersebut.
Bagi Sidoarjo, jejak Jenggala menghadirkan ruang untuk memahami identitas daerah melalui hubungan antara lingkungan alam, aktivitas ekonomi, dan sejarah peradaban.
Kisah kerajaan ini bukan semata tentang siapa yang berkuasa atau di mana istananya pernah berdiri. Lebih jauh, Jenggala membuka pemahaman mengenai bagaimana masyarakat Jawa Timur membangun kehidupan dengan memanfaatkan sungai sebagai penghubung antardaerah.
Hingga kini, letak pusat kekuasaan Jenggala masih menyisakan pertanyaan yang menunggu jawaban melalui penelitian sejarah dan arkeologi.
Sementara itu, Sungai Brantas tetap mengalir melintasi Jawa Timur, menjadi bagian dari bentang alam yang menyimpan jejak perjalanan panjang peradaban. Di kawasan hilirnya, sejarah Sidoarjo terus dapat dibaca melalui tinggalan masa lalu dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
(Irwan Susanto/Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo)