SLEMAN, InfoPublik – Menjadi pekerja sosial di akar rumput sejatinya bukan sekadar berperan sebagai pahlawan pemberi solusi instan bagi warga yang tengah dirundung masalah.
Seorang relawan kemanusiaan dituntut untuk mampu hadir sebagai sahabat yang menuntun masyarakat dalam mengenali dan membangkitkan potensi kemandiriannya sendiri.
Kesadaran inilah yang ditanamkan dalam Bimbingan Teknis Dasar bagi 70 Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) se-Kabupaten Sleman yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Sosial, Sigit Indarto, di Ruang Nakula, Senin (5/10/2026).
Kapasitas para garda terdepan ini digembleng langsung oleh Supartini, Widyaiswara BBPKS Regional III Kementerian Sosial RI periode 1999–2025, yang membedah anatomi teori dan praktik pelayanan sosial.
Dalam paparannya, Supartini menegaskan, pendampingan warga membutuhkan napas panjang dan proses yang sangat sistematis.
Ia merajut tujuh tahapan esensial praktik pelayanan yang wajib dikuasai secara runtut oleh setiap relawan.
Langkah pertama harus selalu diawali dengan pendekatan awal untuk membangun ikatan emosional dan kepercayaan penuh dengan penerima manfaat.
Setelah suasana nyaman terbangun, relawan masuk pada fase asesmen guna memetakan akar masalah sekaligus menggali sumber daya tersembunyi yang dimiliki warga.
Berbekal pemetaan akurat tersebut, proses berlanjut pada penyusunan perencanaan pemecahan masalah yang realistis, yang kemudian dieksekusi langsung melalui pelaksanaan intervensi terarah.
Tak berhenti setelah bantuan diberikan, tahapan krusial berikutnya adalah resosialisasi untuk memastikan fungsi sosial warga kembali diterima hangat di tengah lingkungan keluarganya.
Apabila kemandirian telah mantap terbentuk, pekerja sosial akan melakukan terminasi atau pengakhiran layanan secara terencana, yang pada akhirnya ditutup dengan bimbingan lanjut berupa pemantauan berkala guna mencegah masalah serupa kembali berulang.
Supartini mewanti-wanti para PSM agar melepaskan kacamata yang berorientasi pada penyelesaian masalah secara instan.
Relawan dituntut untuk memandang manusia seutuhnya, lengkap dengan kekuatan dan daya lenting yang dimilikinya.
Melalui peningkatan kapasitas struktural ini, jajaran PSM di Sleman diharapkan semakin profesional dan memiliki tingkat kepekaan tinggi, sehingga roda pendampingan masyarakat dapat berputar secara tepat sasaran, efektif, dan mencetak kemandirian yang berkelanjutan. (MC Kab. Sleman / KIM Seyegan / Sutarto Agus)