Probolinggo, InfoPublik – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo berencana mengembangkan kawasan hutan bakau di pesisir menjadi koridor hijau wisata. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk berjalan kaki, bersepeda, menikmati matahari terbit dan terbenam, hingga mendukung pengembangan kuliner serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, setelah menyusuri kawasan pesisir dalam kegiatan Bakau to Bakau Fun Ride di Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Minggu (4/10/2026).
Menurut Aminuddin, kawasan bakau di pesisir Probolinggo memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya sebagai pelindung kawasan pantai.
“Saya punya mimpi, Bakau to Bakau ini nantinya benar-benar menjadi satu kawasan yang indah. Lorong hutannya bisa dilewati dengan nyaman, kemudian ada anjungan yang bisa menjadi tempat menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam,” ujar Aminuddin.
Ia membayangkan lorong bakau di Pantai Permata Pilang dapat ditata hingga membentuk koridor hijau yang menyatu seperti yang telah terlihat di kawasan bakau Ketapang.
Jalur di kawasan tersebut juga direncanakan diperlebar agar lebih nyaman dilalui pesepeda maupun pengunjung. Sementara itu, anjungan kayu yang telah tersedia akan dibenahi dan diperpanjang.
Aminuddin menegaskan penataan tersebut bukan untuk mengubah karakter alami kawasan. Pengembangan wisata justru diharapkan berjalan beriringan dengan penguatan fungsi ekologis bakau.
“Bakau ini bukan hanya untuk melindungi laut. Kalau kita tanam lebih banyak, kita rawat dan kita tata dengan baik, kawasan pantainya juga akan semakin indah. Fungsi ekologisnya tetap jalan, tetapi potensi wisatanya juga bisa berkembang,” katanya.
Menurut Aminuddin, lorong bakau nantinya dapat menjadi ruang rekreasi masyarakat, termasuk generasi muda, untuk berjalan kaki, bersepeda, menikmati suasana alam, maupun berfoto.
Aminuddin juga mengajak Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di kawasan Pantai Permata Pilang berkolaborasi dengan perangkat daerah dan masyarakat untuk mulai menata kawasan.
Langkah awal dapat dilakukan melalui kerja bakti, pemeliharaan kawasan, serta penanganan bagian jalur yang berpotensi terdampak air.
“Tidak harus menunggu semuanya sempurna. Kita mulai dari yang bisa dilakukan bersama. Pokdarwis, Pokmaswas, PD dan masyarakat bergerak bersama. Kalau dirawat bersama, kawasan ini akan menjadi milik dan kebanggaan bersama,” tegas Aminuddin.
Pengembangan kawasan Bakau to Bakau diharapkan dapat memadukan fungsi konservasi dengan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hutan bakau tetap berfungsi melindungi pesisir sekaligus menjadi ruang wisata yang dapat menggerakkan kuliner, UMKM, dan aktivitas ekonomi warga.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Evariani, menilai kawasan pesisir Kota Probolinggo memiliki potensi wisata yang masih dapat dikembangkan melalui penataan sederhana dan pemanfaatan ruang secara kreatif.
“Saya memang senang mbolang dan melihat tempat-tempat baru. Tadi menyusuri kawasan bakau ini ternyata menyenangkan. Kita bisa melihat bahwa ternyata di sekitar kita masih banyak potensi yang bisa dikembangkan,” ungkap Evariani.
Menurutnya, pengembangan wisata pesisir tidak selalu harus berbentuk destinasi berskala besar. Kawasan yang ditata dengan baik dapat menjadi ruang alternatif bagi keluarga maupun kegiatan masyarakat.
“Misalnya area T10 ini dibersihkan dan dirapikan, bisa menjadi alternatif untuk rapat di ruang terbuka. Tidak harus selalu di dalam ruangan. Bisa juga menjadi tempat keluarga refreshing. Apalagi kalau ada kuliner ikan laut, kemudian UMKM juga dilibatkan. Saya kira akan menarik,” ujarnya.
Konsep tersebut dinilai dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan kuliner hasil laut, produk UMKM, dan aktivitas wisata.
(Yul/fa)