Menjaga Bahasa Tetun, Merawat Identitas Budaya Masyarakat Belu
Gusti Breon, Staf Ahli Stevano Rizki Adranacus memberikan materi dalam Seminar Semarak Kebudayaan di Gedung Betelalenok, Kamis (10/09/2026).
Gusti Breon, Staf Ahli Stevano Rizki Adranacus memberikan materi dalam Seminar Semarak Kebudayaan di Gedung Betelalenok, Kamis (10/09/2026).
Atambua, InfoPublik – Bahasa Tetun dan tradisi lisan masyarakat Belu, Nusa Tenggara Timur menghadapi tantangan di tengah derasnya modernisasi dan pengaruh budaya global. Pelestarian warisan budaya tersebut perlu diperkuat dengan melibatkan generasi muda sebagai pengguna sekaligus penerus budaya lokal.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Semarak Kebudayaan bertajuk “Eksistensi Bahasa Tetun dan Tradisi Lisan Belu dalam Menghadapi Arus Modernisasi Global” yang digelar di Kabupaten Belu, Kamis (10/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Kementerian Kebudayaan dengan Anggota Komisi X DPR RI Stevano Rizki Adranacus.
Staf Ahli Stevano Rizki Adranacus, Gusti Breon, mengatakan bahasa daerah tidak sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menyimpan sejarah, pengetahuan, nilai, dan identitas masyarakat yang menggunakannya.
Karena itu, bahasa daerah perlu dipandang sebagai kekayaan budaya yang harus dibanggakan, bukan sesuatu yang dianggap kuno atau memalukan.
“Jangan sampai ada anggapan bahwa berbahasa daerah dianggap sesuatu yang memalukan, atau kampungan. Padahal, bahasa daerah adalah bagian dari identitas kita yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurut Gusti, perubahan sosial yang berlangsung cepat membuat generasi muda semakin banyak berinteraksi dengan budaya global. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan ruang yang memungkinkan anak muda mengenal, memahami, mencintai, dan menggunakan kembali bahasa serta tradisi daerahnya.
Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan upaya berkelanjutan agar bahasa Tetun dan tradisi lisan tetap digunakan dalam kehidupan masyarakat serta diwariskan antargenerasi.
Melalui fungsi dan kewenangannya sebagai anggota DPR RI, Stevano disebut berkomitmen mendorong berbagai program yang mendukung pelestarian kebudayaan di daerah. Menurut Gusti, kegiatan diskusi seperti seminar kebudayaan penting untuk mempertemukan masyarakat, generasi muda, dan para pegiat budaya dalam membicarakan keberlanjutan budaya lokal.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia. Saya tahu kegiatan seperti ini tidak mudah dipersiapkan. Ada banyak tenaga, pikiran, dan waktu yang dicurahkan. Namun, inilah bagian dari perjuangan untuk menghadirkan ruang bagi pemikir dan pejuang kebudayaan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Brigita Juliana Hati mengatakan seminar tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali pentingnya bahasa Tetun dan tradisi lisan kepada generasi muda Kabupaten Belu.
Menurutnya, kegiatan serupa baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Belu dengan sasaran utama generasi muda. Pelibatan generasi muda dinilai penting karena keberlangsungan bahasa daerah sangat bergantung pada kemauan generasi penerus untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. "Saya mengajak kita semua untuk bersama-sama menjaga bahasa Tetun dan tradisi lisan di Kabupaten Belu agar tidak punah,” ajaknya.
Brigita juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan generasi muda dengan akar budaya leluhur. Menurutnya, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para pemateri untuk membahas tantangan dan strategi mempertahankan eksistensi bahasa Tetun serta tradisi lisan Belu di tengah perkembangan zaman.
© Copyright 2026, All Rights Reserved