Kota Gorontalo, InfoPublik — Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Gorontalo melalui Balai Perlindungan Tanaman (Balintan) , mendorong pemanfaatan Agen Pengendali Hayati (APH), untukmendukung pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui kegiatan perbanyakan Paenibacillus polymyxa di Instalasi Pengamatan dan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (IP3OPT) Limboto.
Paenibacillus polymyxa merupakan salah satu bakteri yang dapat ditemukan di sekitar perakaran tanaman dan memiliki potensi dalam membantu menekan perkembangan sejumlah mikroorganisme penyebab penyakit tanaman. Salah satunya adalah penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi sawah.
Kegiatan perbanyakan itu menjadi bagian dari upaya mendukung penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan meningkatkan ketersediaan APH yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengendalian OPT di lapangan.
Di IP3OPT Limboto, perbanyakan Paenibacillus polymyxa ditargetkan mencapai 1.000 liter. Hasil perbanyakan tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pengendalian OPT pada tanaman di tingkat lapangan.
Kepala Balai Perlindungan Tanaman (Balintan) DKPTPH Provinsi Gorontalo, Abd Wahid Lahay, mengatakan bahwa pemanfaatan APH merupakan salah satu langkah penting dalam mendorong sistem perlindungan tanaman yang lebih ramah lingkungan.
“Perbanyakan Paenibacillus polymyxa ini merupakan bagian dari upaya kami untuk meningkatkan ketersediaan agen pengendali hayati yang dapat dimanfaatkan di lapangan. Kita ingin pengendalian OPT tidak hanya bergantung pada penggunaan bahan kimia, tetapi juga mengoptimalkan potensi mikroorganisme yang bermanfaat,” ujar Abd Wahid Lahay, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, keberadaan APH perlu diikuti dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani serta penyuluh agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara tepat.
“Kami mengajak para petani dan penyuluh untuk bersama-sama mengenali OPT sejak dini, melakukan pengamatan secara rutin, dan memanfaatkan APH sebagai salah satu alternatif dalam pengendalian. Penyuluh memiliki peran penting dalam mendampingi petani agar penerapan PHT benar-benar dilakukan berdasarkan kondisi OPT di lapangan,” katanya.
Ia mengatakan, pengendalian OPT sebaiknya tidak langsung berorientasi pada penggunaan pestisida kimia, tetapi mengedepankan prinsip PHT dengan memanfaatkan berbagai metode pengendalian yang aman dan ramah lingkungan.
“Mari kita mulai dari hal sederhana, yaitu kenali OPT-nya, pahami cara pengendaliannya, dan manfaatkan APH yang tersedia. Dengan kolaborasi antara petani, penyuluh dan petugas perlindungan tanaman, kita bisa mendorong pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” kata Abd Wahid. (mcgorontaloprov/oman)