Sleman, InfoPublik - Budidaya tanaman cabe jawa (Piper retrofractum) dinilai mampu menjadi sumber penghasilan rutin yang menjanjikan bagi masyarakat karena dapat dipanen setiap minggu sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Komoditas rempah dari keluarga sirih-sirihan ini bahkan memiliki potensi pasar internasional yang sangat terbuka, khususnya untuk memenuhi permintaan pasar Eropa yang tinggi terhadap produk pertanian organik.
Hal tersebut dibuktikan oleh Imam Suhadi, seorang petani di Dusun Domban, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, yang berhasil memanfaatkan pekarangan rumahnya senilai 150 meter persegi untuk membudidayakan 25 batang cabe jawa. Kamis (4/6/2026).
Dari lahan yang relatif terbatas tersebut, Imam mampu memproduksi sekitar 10 kilogram cabe jawa kering setiap bulannya.
Imam mengatakan, komoditas yang dikenal di pasar internasional sebagai Java Long Pepper itu memiliki nilai ekonomis yang tinggi dengan perawatan yang sangat minim.
Saat ini, harga cabe jawa kering di pasaran berkisar antara Rp75.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Selai
Sekilas tampak sederhana, namun tanaman itu menjadi sumber penghasilan yang terus mengalir. Di pasar internasional, tanaman dari keluarga sirih-sirihan (Piperaceae) ini dikenal sebagai Java Long Pepper, dengan nama ilmiah Piper retrofractum. Bunganya berukuran kecil, berwarna kekuningan, dan tumbuh dengan tangkai pendek di ketiak daun.
“Kalau saya bilang, ini seperti punya ATM di halaman,” ujar Imam.
Ia menjelaskan, cabe jawa dapat dipanen setiap minggu sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Di samping itu, perawatan tanaman itu tergolong sangat sederhana. Pasalnya tanaman tersebut tidak disemprot pestisida, tidak diberi obat-obatan, dan pemupukan pun hampir tidak dilakukan. Bahkan, rumput liar yang tumbuh di bawah tanaman dibiarkan karena berfungsi sebagai penutup tanah yang menjaga kelembapan serta meredam panas matahari.
“Semakin alami semakin baik. Pengelolaan organik lebih disukai oleh pembeli dari Jerman,” tegasnya.
Potensi pasar cabe jawa juga tergolong menjanjikan. Sebab permintaan dari Jerman dan Spanyol jauh melampaui suplai yang mampu dihasilkan oleh para petani.
Cabe jawa bukan sekadar bumbu dapur. Rempah ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan pengobatan tradisional karena sifatnya yang menghangatkan tubuh. Dalam industri herbal modern, ekstraknya juga digunakan sebagai bahan pendukung berbagai produk kesehatan dan kesuburan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)