SLEMAN, InfoPublik – Menua bukan berarti berhenti bertumbuh dan belajar. Semangat luar biasa inilah yang terpancar dari raut wajah 40 perempuan paruh baya saat mengikuti pembukaan Sekolah Lansia Wredha Mulya (SALWA) Angkatan ke-2 di Aula Sasana Wredha Mulya, Sendowo, Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Kamis (24/9/2026).
Mengusung tema hangat “Belajar Tiada Batas, Bahagia di Usia Emas”, sekolah nonformal ini menjelma menjadi ruang interaksi sosial sekaligus oase belajar bagi para lansia agar tetap sehat, mandiri, dan bermartabat.
Sekolah Lansia Wredha Mulya merupakan unit pelayanan sosial binaan Yayasan Wredha Mulya yang merancang kurikulum khusus agar ramah dan sesuai dengan dinamika kehidupan usia senja.
Ada yang unik dari sebutan bagi para peserta didiknya. Koordinator SALWA, Suripto, mengungkapkan bahwa para peserta tidak lagi dipanggil siswa atau mahasiswa, melainkan “mahawredha”.
Sebutan penuh kehangatan ini diberikan untuk menghargai fase kehidupan senior yang sedang mereka jalani.
Suripto menuturkan, antusiasme program ini terus berlanjut setelah sukses mengantarkan 27 dari 35 mahawredha angkatan pertama hingga kursi wisuda.
Pada angkatan kedua ini, sebanyak 40 peserta yang seluruhnya perempuan hadir dengan rentang usia yang mengagumkan, yakni termuda berusia 62 tahun hingga yang paling sepuh menginjak usia 79 tahun.
Kepala Sekolah SALWA, Sugiyanto, memaparkan, proses perkuliahan dirancang selama dua semester yang mencakup 24 kali pertemuan rutin.
Kegiatan belajar-mengajar digelar dua kali sebulan, yakni pada hari Kamis di minggu kedua dan keempat pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, sebelum ditutup dengan prosesi wisuda pada pertemuan ke-25.
Menariknya, materi yang disajikan tidak sekadar teori kesehatan, melainkan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan lansia sehari-hari.
Sebanyak 19 pengajar berdedikasi siap membekali para mahawredha dengan ragam materi komprehensif, mulai dari strategi menghadapi cucu dan menantu, manajemen tidur dan gizi, psikologi dan religi, hukum keluarga dan waris, hingga terapi spiritual dan olahraga senam lansia.
Tidak ketinggalan, kurikulum SALWA juga merespons perkembangan zaman dengan membekali para lansia keterampilan modern seperti literasi digital, pemasaran daring, pengenalan media sosial, hingga pemanfaatan layanan mobile banking.
Ada pula muatan lokal bernuansa kultural seperti pemaknaan tembang Jawa dan filosofi Dadi Wong Jowo.
Melalui ragam program yang kaya manfaat ini, SALWA bukan sekadar tempat menimba ilmu pengetahuan.
Lebih dari itu, sekolah ini menjadi wadah silaturahmi yang hangat, tempat memupuk kebahagiaan, menjaga kesehatan mental, serta merawat semangat hidup agar para lansia tetap berdaya guna di tengah keluarga dan masyarakat. (MC Kab. Sleman / KIM Pijar Mlati / Y. Edy Setyoharjo)