Jakarta, InfoPublik – Indonesia memperkuat perannya dalam agenda sains UNESCO dengan mengembangkan kerja sama riset, kebijakan, pengelolaan lingkungan, literasi kebencanaan, hingga literasi laut. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berbagai program tersebut diarahkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi menghasilkan basis bukti yang dapat mendukung kebijakan dan menjawab kebutuhan pembangunan.
Hal itu tecermin dalam Laporan Program Sains UNESCO yang disampaikan Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian dalam Sidang Pleno Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) 2026, Senin (28/9/2026).
"Salah satu capaian penting terlihat dari keterlibatan Indonesia dalam jaringan kebijakan sains, teknologi, dan inovasi Asia-Pasifik melalui Science, Technology, Engineering and Innovation Policy Asia and the Pacific Network (STEPAN) UNESCO. Indonesia menjadi tuan rumah 6th Annual Meeting STEPAN pada 31 Agustus–1 September 2026 sekaligus menyampaikan Country Report Indonesia menggunakan metodologi UNESCO GO-SPIN," ucapnya.
Ia mengatakan, pemetaan tersebut memberikan gambaran mengenai sistem tata kelola sains, teknologi, dan inovasi nasional sekaligus menjadi basis untuk memperkuat kebijakan. Dalam laporan BRIN, program nasional juga dipetakan ke tiga agenda STEPAN Action Plan 2026–2030, yakni tata kelola dan kebijakan STI, pemanfaatan STI untuk pembangunan berkelanjutan, serta penguatan hubungan antara sains, kebijakan, dan masyarakat.
Pusat Penelitian Evolusi dan Masyarakat Prasejarah Asia Tenggara
Lanjutnya, kerja sama UNESCO-BRIN juga memperkuat posisi Indonesia sebagai lokasi penting penelitian evolusi manusia dan masyarakat prasejarah di Asia Tenggara.
Melalui Center for Human Evolution, Adaptation and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA), BRIN bersama mitra internasional mengembangkan RIIM Bumiayu Collaborative Research Program yang dimulai pada Februari 2025 dengan durasi tiga hingga lima tahun. Program ini berfokus pada evolusi, adaptasi, dan persebaran manusia di Asia Tenggara serta melibatkan peneliti nasional, internasional, dan perguruan tinggi.
Program Human Origins and Heritage yang berlangsung pada 2025 dan 2026 juga menggabungkan pelatihan, riset partisipatif untuk pelestarian situs, serta pendidikan warisan budaya berbasis masyarakat di Situs Warisan Dunia Sangiran dan Salatiga. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat penelitian mengenai manusia purba, lingkungan masa lalu, dan perkembangan budaya di Indonesia.
Di bidang lingkungan, Indonesia berhasil meloloskan tujuh cagar biosfer dalam proses Periodic Review, yaitu Komodo, Gunung Leuser, Tanjung Puting, Bromo Tengger Semeru Arjuno, Lore Lindu, Taka Bonerate, dan Siberut.
Indonesia juga memperoleh penetapan Raja Ampat sebagai cagar biosfer ke-21 sekaligus cagar biosfer pertama di kawasan timur Indonesia pada World Congress Biosphere Reserves dan 37th International Coordinating Council Man and the Biosphere (MAB) UNESCO di Hangzhou, Tiongkok, pada September 2025.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kerja sama sains tidak hanya berorientasi pada pengakuan internasional, tetapi juga membuka ruang untuk memperkuat pengelolaan ekosistem, penelitian, pemantauan, dan pembangunan berkelanjutan di daerah.
Pada sektor hidrologi, keterlibatan Indonesia dalam UNESCO Intergovernmental Hydrological Programme (IHP) diarahkan untuk memperkuat kapasitas riset, inovasi, data hidrologi, sistem peringatan dini, serta kebijakan pengelolaan air berbasis sains.
Ia mengungkapkan, BRIN menilai jejaring tersebut dapat memperkuat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan masyarakat dalam menghadapi risiko banjir, kekeringan, perubahan iklim, serta tantangan ketahanan air. Indonesia juga menjadi tuan rumah Asia-Pacific Centre for Ecohydrology (APCE), UNESCO Category II Centre, yang berpotensi memperkuat peran Indonesia sebagai hub regional dalam riset, pendidikan, dan transfer pengetahuan ekohidrologi. "Pendekatan serupa diterapkan pada isu kelautan melalui program Ocean Literacy & Blue Citizen Indonesia 2026–2027. BRIN mengembangkan tiga jalur utama, yakni diplomasi dan tata kelola, edukasi serta aksi publik, dan pemanfaatan sains untuk memperkuat ketahanan pesisir," terang Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian.
Program tersebut antara lain merintis sekolah literasi laut di SMAN 8 Balikpapan, mengembangkan Kampung Ekonomi Biru di Kabupaten Tangerang, serta melibatkan generasi muda melalui APEC Blue Citizen Summer School. Riset mengenai pengurangan risiko bencana berbasis ekosistem, restorasi mangrove, dan blue carbon juga diterjemahkan menjadi materi komunikasi publik.
Dengan pendekatan itu, literasi laut ditempatkan bukan sekadar sebagai edukasi lingkungan, melainkan bagian dari investasi ketahanan pesisir dan pengembangan ekonomi biru.
Dimensi sosial juga menjadi bagian penting dari keterlibatan Indonesia dalam UNESCO. Melalui Management of Social Transformations (MOST) UNESCO-BRIN, Indonesia menjalankan peran sebagai Vice-President of the Bureau MOST UNESCO untuk Electoral Group IV periode 2025–2027.
Program tersebut menghubungkan riset, pengetahuan, kebijakan, dan aksi pembangunan sosial, termasuk melalui pengembangan literasi kebencanaan inklusif. Lokakarya di Sumatra Barat, Sulawesi Tengah, dan Yogyakarta pada 2025 mempertemukan sains modern dengan pengetahuan lokal dan menghasilkan panduan, modul pelatihan, serta media pembelajaran.
Pada 2026, kajian mengenai masyarakat rentan juga dilakukan melalui studi manusia gerobak di DKI Jakarta dan Kota Bekasi. Kajian tersebut ditargetkan menghasilkan policy brief, profil masyarakat yang dikaji, dan film dokumenter sebagai basis pengetahuan untuk penyusunan intervensi kebijakan.
Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian lain dari agenda tersebut. BRIN bersama International Science, Technology and Innovation Centre for South-South Cooperation under the auspices of UNESCO (ISTIC) menyelenggarakan Short School on Science and Technology Diplomacy pada 21–23 September 2026. Kegiatan itu diikuti 67 peserta dari BRIN, perguruan tinggi, Bappenas, Kemdiktisaintek, dan organisasi profesi.
Rangkaian program tersebut memperlihatkan arah kerja sama UNESCO-BRIN yang semakin terhubung antara penelitian, pengembangan kapasitas, diplomasi sains, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan, ke depan, BRIN mendorong penguatan kerja sama regional melalui kolaborasi publikasi, peer learning dalam pendanaan riset, jejaring inovasi, mobilitas talenta, serta pemanfaatan hasil riset untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Arah tersebut sejalan dengan target nasional untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam Global Innovation Index dan memperbesar belanja penelitian dan inovasi terhadap produk domestik bruto hingga 2029. "Dengan demikian, keterlibatan Indonesia dalam program sains UNESCO diarahkan untuk memperluas manfaat riset dari laboratorium dan forum internasional ke ruang kebijakan dan kehidupan masyarakat. Pendekatan itu sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra yang tidak hanya mengikuti agenda sains global, tetapi turut menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman dari Indonesia," tutup Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian.