Kemenkes Prihatin, 67,6 Persen Orang Tua Masih Berikan Kental Manis ke Balita
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI
Jakarta, InfoPublik - Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Lovely Daisy, menyatakan keprihatinannya terhadap hasil survei Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menunjukkan masih banyak orang tua memberikan susu kental manis kepada balita sebagai pengganti susu.
Menurutnya, temuan tersebut menjadi alarm bahwa literasi gizi masyarakat, khususnya terkait pemenuhan asupan anak.
"Hasil ini tentu menjadi keprihatinan kita bahwa masih minimnya pengetahuan gizi, terutama terkait makanan pendamping ASI, di mana mereka memahami bahwa kental manis itu minuman yang sehat untuk anak mereka. Padahal kandungan susu pada kental manis sangat sedikit, bahkan sangat tinggi kandungan gulanya," kata Lovely, dalma keterangan tertulisnya, Jumat (24/6/2026).
Seperti diketahui, Unisba baru saja melakukan survei terhadap 2.150 orang tua balita di Indonesia. Survei menemukan 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan, menunjukkan bahwa persepsi keliru mengenai fungsi produk tersebut masih bertahan di masyarakat.
Lovely menjelaskan tingginya kandungan gula pada kental manis bukan tanpa alasan. Menurutnya, gula sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lebih panjang sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan berasal dari karbohidrat atau gula.
"Gula ini sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lama, sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan oleh kental manis berasal dari karbohidrat atau gula," ujarnya.
Menurut Lovely, mengubah kebiasaan masyarakat yang telah lama menganggap kental manis sebagai susu untuk pertumbuhan bukan perkara mudah. Ia menilai persoalan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Salah satu faktor yang dinilai paling berpengaruh adalah kuatnya jejak iklan pada masa lalu. Selama puluhan tahun, kental manis ditampilkan dalam berbagai iklan sebagai minuman susu yang menyehatkan bagi keluarga dan anak-anak sehingga membentuk persepsi yang masih melekat hingga sekarang. Di sisi lain, harga yang relatif murah dan daya simpan yang panjang membuat produk tersebut tetap menjadi pilihan bagi sebagian keluarga.
Selain itu, Lovely menilai rendahnya kebiasaan masyarakat membaca label pangan juga ikut memperkuat kesalahpahaman. Banyak konsumen tidak mencermati Tabel Informasi Nilai Gizi sehingga tidak mengetahui bahwa kandungan gula dalam kental manis jauh lebih dominan dibandingkan kandungan proteinnya. Menurutnya, edukasi mengenai gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal juga masih perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada persepsi lama.
Dalam survei Unisba juga menemukan bahwa hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Bagi Lovely, temuan tersebut menunjukkan persoalan kental manis tidak lagi berkaitan dengan tingkat pendidikan formal semata, melainkan literasi gizi yang belum sepenuhnya dimiliki masyarakat.
Oleh karena itu, dia mendorong peran kader Posyandu, Puskesmas, dan tenaga kesehatan perlu terus dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi mengenai gizi, membiasakan masyarakat membaca label pangan, serta membantu keluarga memahami perbedaan mendasar antara susu dan kental manis.
“Sebagai garda terdepan untuk melakukan edukasi langsung secara tatap muka kepada para ibu tentang gizi seimbang dan pemenuhannya berbasis makakan lokal yang juga bisa didapat dengan harga terjangkau ,” ungkap Lovely.