Jakarta, InfoPublik – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pimpinan ormas lintas agama di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/9/2025), turut menghadirkan Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, serta Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Keduanya menyampaikan pesan moral, aspirasi umat, hingga seruan persatuan bangsa.
Wisnu Bawa Tenaya menegaskan pentingnya lima nilai kebenaran atau satya yang harus dipegang teguh, baik oleh pemimpin maupun rakyat. Nilai tersebut meliputi Satya Herdaya (mengikuti suara hati dan suara rakyat), Satya Wacana (menjaga ucapan), Satya Semaya (menepati janji), Satya Mitra (bersahabat dan bersinergi), serta Satya Laksana (melakukan yang terbaik).
“Jagalah mulut, mulutmu harimau, lidahmu pedangmu. Jangan pernah kasar, jangan fitnah, jangan jahat, dan jangan bohong. Janji yang sudah diucapkan harus ditepati,” tegas Wisnu dalam keterangan pers usai pertemuan.
Ia juga mengingatkan Presiden Prabowo untuk berani mengambil sikap tegas dalam menegakkan keadilan. “Pisau komando itu tajam ke atas, bukan hanya ke bawah. Jadi, pemimpin harus berani. Mari kita bersatu, percaya kepada Tuhan, dan berdoa agar Indonesia tetap damai,” ujarnya.
Lebih jauh, anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menyerukan agar seluruh umat beragama memperkuat rasa kekeluargaan demi menciptakan ketenteraman. Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan doa dan persatuan sebagai pegangan dalam menghadapi tantangan bangsa.
“Kita nyanyikan Indonesia Raya, kita berseru Indonesia tetap bersatu, berdoa agar Indonesia bahagia, dan berjanji Indonesia tetap abadi,” tambahnya.
Sementara itu, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menegaskan bahwa inisiatif pertemuan dengan Presiden datang dari ormas-ormas Islam sendiri, bukan semata undangan Presiden. “Judul di beberapa media menyebut Presiden mengundang 16 ormas, padahal ini inisiatif kami. Bahkan sejak beberapa bulan lalu kami berkumpul di PBNU dan PMO Madia untuk meminta bertemu beliau,” jelasnya.
Menurut Zaitun, pada awalnya pertemuan direncanakan untuk membahas isu genosida di Gaza. Namun, situasi dalam negeri yang menuntut perhatian membuat fokus pembicaraan meluas pada persoalan bangsa.
“Alhamdulillah, kami sudah membuat rumusan aspirasi sebelum bertemu Presiden, dan disampaikan pada pertemuan ini. Intinya senada dengan yang disampaikan Gus Yahya dari PBNU, yakni mengutamakan kepentingan rakyat dan persatuan bangsa,” ungkapnya.
Ia memastikan hasil perumusan aspirasi tersebut akan segera dibagikan kepada publik sebagai bentuk transparansi. “Ini bukan hanya untuk kami, tapi untuk semua masyarakat agar tahu apa yang menjadi suara bersama,” imbuhnya.
Zaitun menegaskan, komitmen ormas Islam tidak hanya sebatas menyampaikan kritik, tetapi juga mendukung langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional.
Pertemuan tersebut memperlihatkan keterlibatan luas tokoh lintas agama yang mengusung semangat persatuan dan kritik konstruktif. Presiden Prabowo, menurut para tokoh, menunjukkan keterbukaan dalam menerima aspirasi sekaligus menyampaikan komitmen untuk menindaklanjuti berbagai masukan.