Kemenkes: Keganasan Nyamuk Dengue Bukan Akibat Penyebaran Wolbachia

: Ilustrasi nyamuk wolbachia/Foto: Kemenkes


Oleh Putri, Selasa, 2 April 2024 | 12:35 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 160


Jakarta, InfoPublik - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Keshatan (Kemenkes) Maxi Rein Rondonuwu menegaskan tidak ada hubungan antara penyebaran nyamuk ber-wolbachia dengan tingkat keganasan nyamuk Aedes Aegypti, penyebab demam berdarah.

Menurutnya, karakteristik nyamuk Aedes Aegypti di daerah yang telah disebarkan maupun belum disebarkan nyamuk ber-wolbachia tetap sama.

"Secara keseluruhan karakteristik dan gejalanya sama, seperti demam tinggi yang diikuti nyeri otot, mual, muntah, sakit kepala, mimisan, dan gusi berdarah,” kata Maxi seperti yang dikutip InfoPublik Selasa (2/4/2024).

Hingga kini, penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah dilaksanakan di lima kota yakni Semarang, Kupang, Bontang, Bandung, dan Jakarta Barat. Penetapan kelima wilayah tersebut mempertimbangkan kesiapan stakeholder dan masyarakat setempat.

Semarang menjadi lokasi pertama yang melaksanakan penyebaran nyamuk ber-wolbachia, diikutin Kota Bontang dan Kota Kupang. Hingga saat ini, pelaksanaan tersebut belum menyeluruh di semua wilayah.

Di Kota Semarang, penyebaran nyamuk ber-wolbachia dilakukan di  empat kecamatan, Kota Bontang di tiga kecamatan, dan Kota Kupang di satu kecamatan.

Sementara itu untuk wilayah Bandung, penyebaran nyamuk ber-wolbachia baru dilakukan di satu kelurahan yaitu Pesanggrahan, Kecamatan Ujung Berung. Sedangkan di Jakarta Barat, Maxi menambahkan penyebaran nyamuk ber-wolbachia hingga kini belum dilaksanakan.

Hal ini karena masih menunggu kesiapan masyarakat dan penandatangan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta dengan Kemenkes yang sempat tertunda karena terjadi pergantian pimpinan di DKI Jakarta.

Maxi mengungkapkan hasil monitoring bersama antara Kemenkes dan dinas kesehatan di lima kota tersebut menunjukkan setelah pelepasan ember nyamuk ber-wolbachia, konsentrasi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang ada dialam berada di kisaran 20 persen.

Angka tersebut, kata Maxi masih berada di bawah persentase nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang idealnya mencapai 60 persen di alam.

“Setelah 60 persen, pelepasan ember nyamuk ber-wolbachia akan ditarik kembali dan hasil penurunan kasus dengue baru akan mulai terlihat setelah 2 tahun, 4 tahun, 10 tahun dan seterusnya seperti implementasi yang dilakukan di Kota Yogyakarta,” ungkap Maxi.

Penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah terbukti efektif menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta. Sejak pertama kali disebar pada 2017, nyamuk ber-wolbachia mampu menurunkan 77 persen angka kejadian dengue dan 86 persen kejadian masuk rumah sakit.

Maxi menjelaskan enerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman karena memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang ada pada serangga dan telah melalui proses penelitian yang cukup panjang.

Penelitian teknologi wolbachia dilakukan di Yogyakarta selama 12 tahun, yakni dari 2011-2023 dan melewati empat tahapan penelitian. Mulai fase kelayakan dan keamanan (2011-2012), fase pelepasan skala terbatas (2013-2015), fase pelepasan skala luas (2016-2020), dan fase implementasi (2021-2022).

Di dunia, studi pertama Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT) yang merupakan sebuah desain dengan standar tertinggi.

Di Indonesia, analisis risiko diinisiasi oleh Kemenristekdikti dan Balitbangkes Kemenkes dengan melibatkan 20 orang dari berbagai kepakaran. Hasil analisis memperlihatkan bahwa pelepasan nyamuk ber-wolbachia memiliki risiko yang sangat rendah.

“Yang mana dalam 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya dari penyebaran aedes aegypti ber-wolbachia dapat diabaikan (negligible),” kata Maxi.

World Health Organization (WHO) selaku selaku Vector Control Advisory Group (VCAG) pada 2023 telah merekomendasikan penggunaan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. VCAG merupakan badan yang bertugas memberikan nasihat dan panduan terkait pengendalian vektor atau penyebaran penyakit oleh vektor tertentu seperti nyamuk.

Meski telah menyebar nyamuk ber-wolbachia, Maxi mengimbau masyarakat untuk melengkapi upaya pencegahan dengan menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus.

Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Putri
  • Minggu, 14 April 2024 | 21:05 WIB
Pembangunan Jalur Kereta Simpang Joglo Selesai September 2024
  • Oleh Putri
  • Sabtu, 13 April 2024 | 19:37 WIB
Kapal PELNI Layani 304 Ribu Penumpang Periode Arus Mudik
  • Oleh Putri
  • Sabtu, 13 April 2024 | 19:30 WIB
Volume Pengguna Commuter Line Jabodetabek Lebih dari 10 Juta