Jum'at, 28 Maret 2025 21:22:57

KLHK Rilis Pusat Data dan Informasi Keanekaragaman Hayati BIOAct Center

:


Oleh Wahyu Sudoyo, Sabtu, 11 Maret 2023 | 06:42 WIB - Redaktur: Untung S - 421


Jakarta, InfoPublik – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis Pusat Data dan Informasi Keanekaragaman Hayati Biodiversity Action Center atau BIOAct Center untuk merangkum dan mengelola data keanekaragaman hayati terverifikasi dari seluruh Indonesia.

“BIOAct Center merupakan pusat kendali data dan informasi keanekaragaman hayati di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sumber data yang diolah pada BIOAct Center adalah data-data dari tapak yang dikumpulkan oleh Unit Pelaksana Teknis di lapangan di seluruh Indonesia dan data lain yang telah terverifikasi,” ujar Wakil Menteri LHK, Alue Dohong, dalam keterangan resmi terkait Lokakarya Nasional dan Sosialisasi Hasil COP 15 CBD, yang diterima InfoPublik pada Jumat (10/3/2023).

Wamen LHK menjelaskan, peluncuran BIOAct Center merupakan bagian dari sosialisasi Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework untuk Keanekaragaman Hayati Indonesia.

Data yang dirangkum BIOAct Center akan menjadi data landasan pengambilan kebijakan dan juga landasan laporan kontribusi Indonesia terhadap Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

“Data itu, akan disampaikan kepada Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati dalam National Report ketujuh,” kata Alue Dohong.

Konvensi Keanekaragaman Hayati sebelumnya telah menyelenggarakan pertemuan para pihak (COP-CBD) ke-15 di Montreal, Kanada pada 7 - 19 Desember 2022 lalu.

Menurut Wakil Menteri LHK, yang turut hadir sebagai pimpinan delegasi Indonesia, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan kerangka kerja global untuk mengurangi laju hilangnya keanekaragaman hayati yang diadopsi oleh semua anggota Convention of Biological Diversity (CBD), yang disebut Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

“Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework berisikan target-target yang cukup ambisius yang akan menjadi salah satu acuan untuk merumuskan rencana dan kebijakan keanekaragaman hayati di tingkat nasional,” jelas Wamen Alue Dohong.

Lebih lanjut Wamen LHK mengatakan, dalam Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, terdapat empat elemen kunci kerangka kerja global 2050 yang dijabarkan dengan 23 target dan diharapkan dapat dicapai pada 2030.

Target tersebut dikelompokkan dalam tiga isu besar, yaitu delapan target untuk pengurangan resiko ancaman terhadap keanekaragaman hayati; lima target untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan berkelanjutan dan pembagian manfaat, dan 10 target untuk mendukung implementasi dan pengarusutamaanya.

“Implementasi Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global tersebut dipandu dan didukung melalui paket keputusan yang komprehensif yang juga diadopsi pada COP 15,” tutur dia.

Paket keputusan itu mencakup: Kerangka kerja untuk pemantauan capaian; Mekanisme untuk perencanaan, pemantauan, pelaporan, dan peninjauan implementasi; Sumber daya keuangan yang diperlukan untuk implementasi; Kerangka kerja strategis untuk pengembangan kapasitas dan kerjasama teknis dan ilmiah; serta Kesepakatan tentang informasi urutan digital pada sumber daya genetik atau yang kita kenal sebagai digital sequence information (DSI).

Turut hadir mendampingi Wamen LHK, Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan KHLK, Ruandha Agung Sugardiman, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik KLHK, Indra Exploitasia, Kepala Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian Kementerian Pertanian, Prayudi Syamsuri, serta Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto.

Foto: Biro Humas KLHK