Surabaya, InfoPublik - Womanpreneur dan influencer Ayana Jihye Moon mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) membangun personal branding yang kuat melalui media sosial sebagai strategi meningkatkan kepercayaan konsumen.
Menurut dia, masyarakat tidak hanya tertarik pada produk yang dijual, tetapi juga pada kredibilitas dan citra pemilik usaha.
Hal tersebut disampaikan Ayana saat menjadi pembicara dalam talkshow "She-Connects: Perempuan Go Digital, UMKM Go Beyond" yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/7/2026).
Ayana mengungkapkan bahwa dirinya bukan pelaku UMKM. Selama berkarier di Indonesia, ia lebih banyak dipercaya sebagai brand ambassador berbagai perusahaan besar. Karena itu, media sosial dimanfaatkannya sebagai ruang untuk membangun identitas dan menunjukkan nilai yang dimilikinya.
"Sebenarnya saya bukan pemilik UMKM, tapi di Indonesia saya kerja sebagai brand ambassador untuk perusahaan yang besar di sini, jadi menurut saya media sosial itu tempat yang saya bisa menunjukkan pribadi saya," ujar dia.
Ia mengatakan, konten yang dibagikan di media sosial lebih banyak berisi aktivitas sehari-hari, proses belajar, serta perjalanan hidupnya sebagai seorang mualaf asal Korea Selatan.
Menurut dia, kisah tersebut membuat banyak orang merasa dekat dan mengikuti perkembangannya. "Jadi saya suka share tentang kegiatan saya dan juga saya suka belajar tentang itu juga dan kisah saya karena saya mualaf dari Korea jadi banyak orang suka sama itu," kata dia.
Konsistensi menjaga citra diri, lanjut Ayana, menjadi alasan banyak perusahaan besar mempercayainya untuk mewakili merek mereka. Baginya, yang terpenting bukan sekadar menjual produk, melainkan membangun reputasi yang baik. "Dan banyak brand besar juga pikir saya cocok untuk brand besar, karena saya selalu maintain image yang bagus. Dan juga saya nggak pernah menjual produk-produk di medsos, tapi saya menjual image dan brand saya," ungkap dia.
Ayana juga membagikan perjalanan akademik dan profesionalnya sebagai bagian dari upaya membangun kredibilitas. Ia mengaku akan melanjutkan studi magister di Universitas Oxford mulai September 2026. "Jadi di Indonesia banyak orang mau belajar di luar negeri dan saya akan lanjut kuliah S2 di Oxford dari September tahun ini," tutur dia.
Selain itu, ia pernah menempuh pendidikan di bidang politik, bekerja di sektor politik di Korea Selatan, serta memiliki relasi dengan sejumlah tokoh internasional. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi nilai tambah yang membuat masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang memiliki kompetensi.
"Saya punya hubungan baik dengan orang hebat seperti Perdana Menteri Malaysia dan juga saya kerja di bidang politik di Korea. Jadi banyak orang suka lihat itu dan kagum karena saya seorang muslimah tapi saya bisa belajar di sini, dan bisa kerja dengan orang hebat," jelas dia.
Ayana menilai, ketika masyarakat telah percaya pada rekam jejak dan aktivitas seseorang, mereka akan lebih mudah menerima rekomendasi produk yang digunakan orang tersebut. "Jadi kalau orang-orang suka sama kegiatan saya, orang-orang mau beli produk yang saya pakai," ujar dia.
Berkaca dari pengalamannya, Ayana mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya memanfaatkan media sosial sebagai etalase produk. Menurutnya, pemilik usaha juga harus menunjukkan pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi di bidang yang digeluti sehingga mampu membangun kepercayaan publik.
"UMKM di medsos, saya pikir banyak orang, banyak pemilik nggak ngerti tentang produk mereka. Jadi kalau saya, walaupun saya nggak jual barang-barang di medsos, tapi saya selalu share kegiatan saya tentang kebijakan, dan juga tentang politik, dan tentang agama. Jadi banyak orang pikir, oh mungkin Ayana jago tentang hal-hal itu. Jadi kalau pemilik mau jual lebih banyak, harusnya menunjukkan professionality mereka," kata dia.