PT INTI Genjot Teknologi Pengelolaan Sampah Terpadu di Berbagai Daerah

:


Oleh Wahyu Sudoyo, Sabtu, 1 April 2023 | 04:55 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 466


Jakarta, InfoPublik – PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI, melalui anak usahanya, PT INTI Konten Indonesia (PT INTENS) menggenjot implementasi teknologi Manajemen Sampah Zero (MASARO) untuk pengelolaan sampah terpadu di berbagai daerah, seperti Magelang, Gorontalo, Bali, dan Garut. Langkah ini dilakukan setelah terbukti sukses di terapkan di Kota Dumai, Provinsi Sumatera Utara.

“Perseroan yakin melalui berbagai aksi korporasi yang dieksekusi oleh induk dan anak usaha INTI Group, PT INTI (Persero) akan terus tumbuh ekspansif sebagai BUMN teknologi,” kata Vice President Corporate Secretary PT INTI, Delvia Damayanti, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/3/2023).

Vice President Corporate Secretary PT INTI mengatakan, pihaknya telah menggarap Sistem Pengolahan Sampah (MASARO) berkapasitas 10 ton yang terdiri atas unit pemilahan, instalasi pengolahan sampah anorganik (IPSA), rumah kompos MASARO (RKM), dan sarana pendukung.di Kota Dumai sejak 20 September 2022.

Sistem pengelolaan sampan ini membuat Kota Dumai meraih apresiasi Piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 1 Maret 2023, pertama kali sejak 1999.

Keberhasilan itu membuat Pemerintah Kota Dumai berencana membangun fasilitas serupa dengan kapasitas jauh lebih besar yang akan dibangun pada April 2023.

“Hal tersebut dieksekusi melalui penandatanganan kontrak Surat Pesanan Pemerintah Kota Dumai tertanggal 24 Maret 2023 untuk melanjutkan pembangunan instalasi pengelolaan sampah terpadu dengan teknologi MASARO berkapasitas 30 ton,” jelas Delvia.

Sementara itu, Direktur PT INTENS, Rizqi Ayunda Pratama, menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk mereplikasi pemanfaatan teknologi MASARO dalam pengelolaan sampah terpadu tanpa limbah (zero waste) ke berbagai daerah.

Dia juga mengatakan, Sistem Pengolahan Sampah MASARO merupakan hasil kolaborasi antara PT INTENS dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang secara fundamental diimplementasikan untuk mengubah paradigma cost center (Kumpul – Angkut - Buang) menjadi profit center (Pilah – Angkut – Proses - Jual). 

"Dengan demikian, semua sampah yang terolah menjadi produk berharga. Tidak ada sampah yang dibuang ke TPS (tempat pembuangan sementara) dan TPA (tempat pembuangan akhir)," ujar Rizqi Ayunda.

“Perangkat teknologi ini dapat diakses via e-catalog sehingga sangat memudahkan birokrasi,” kata dia.

Data KLHK mengungkapkan, pada 2021, volume sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton dan pada 2022 meningkat hingga 70 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 persen atau sekitar 16 juta ton di antaranya berupa sampah yang tidak dikelola, yang menandakan bahwa jumlah dan jenisnya terus bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi.  

(foto: Humas BUMN).