BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Mundur, Masyarakat Diminta Waspadai Risiko Karhutla
indonesiabaik.id
indonesiabaik.id
Jakarta, Infopublik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data BMKG per 13 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027, dengan waktu kedatangan yang berbeda di setiap wilayah.
Pada Oktober 2026, sebanyak 63 Zona Musim (ZOM) diperkirakan mulai memasuki musim hujan. Wilayah tersebut mencakup 7,6 persen dari luas daratan Indonesia, antara lain sebagian Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, serta sejumlah wilayah di Papua.
Memasuki November 2026, jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 185 ZOM atau mencakup 24,66 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang mulai mengalami musim hujan meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat bagian utara, serta Papua Selatan.
Selanjutnya, pada Desember 2026, sebanyak 66 ZOM diprediksi mulai memasuki musim hujan, mencakup 17,31 persen luas daratan Indonesia. Wilayah tersebut antara lain sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.
Masyarakat Diimbau Waspadai Karhutla
Mundurnya awal musim hujan berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah. Kondisi lahan yang semakin kering dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan hutan.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, masyarakat diimbau tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kekeringan. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan indikasi atau titik api.
Informasi prakiraan musim hujan menjadi salah satu acuan bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menyiapkan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing. Kesiapsiagaan sejak dini diperlukan untuk mengurangi dampak kekeringan, mencegah karhutla, serta mendukung kelancaran aktivitas masyarakat selama masa peralihan musim.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini dari BMKG serta mengikuti imbauan instansi berwenang agar dapat menyesuaikan aktivitas dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca.
© Copyright 2026, All Rights Reserved