Jakarta, InfoPublik - Di tengah tantangan geografis yang beragam dan kepadatan penduduk yang tinggi, Indonesia dinilai berada pada jalur yang tepat dalam peta transisi energi global.
Penilaian optimistis itu datang dari Chief Operating Officer (COO) Masdar, Abdulaziz Alobaidli, perusahaan energi terbarukan terkemuka asal Uni Emirat Arab.
Dalam keterangan resmi, Selasa (13/1/2026), Abduklaziz Alobaidli mengungkapkan justru keterbatasan lahan telah memicu lahirnya inovasi brilian di tanah air: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Proyek PLTS terapung pertama dan terbesar di Asia Tenggara itu telah beroperasi selama dua tahun dengan hasil yang jauh melampaui ekspektasi. “Keberhasilan proyek tersebut menjadi bukti bahwa pemanfaatan permukaan waduk dapat menjadi solusi strategis untuk mempercepat bauran energi bersih,” ujarnya.
Inovasi itu dianggap sebagai jawaban cerdas atas dilema antara kebutuhan lahan untuk proyek energi bersih skala besar dan pelestarian ekosistem daratan. Kunci dari percepatan itu terletak pads sikap adaptif dari pemerintah Indonesia, PLN, dan lembaga terkait.
Pemerintah disebut telah merespons cepat dengan merevisi regulasi, meningkatkan batas pemanfaatan permukaan waduk untuk PLTS terapung dari hanya 5 persen menjadi 20 persen.
Kebijakan progresif itu dinilai tetap menjaga keseimbangan yang tepat antara desakan untuk memenuhi target energi terbarukan dan komitmen menjaga kelestarian lingkungan. “Dengan aturan baru ini, kami dapat memperluas proyek PLTS Cirata hingga tiga kali lipat. Saat ini kami memasuki fase pengembangan dan tengah menyiapkan proposal kepada PLN,” papar Alobaidli dengan antusias.
Di sisi lain, komitmen Indonesia semakin diperkuat dengan langkah-langkah konkret PLN. Alobaidli menyebutkan, perusahaan listrik negara tersebut telah menjalankan beberapa proses lelang proyek energi surya dengan total kapasitas mendekati 1 gigawatt, sebuah sinyal kuat akan percepatan yang sedang berlangsung.
“Indonesia berada di arah yang benar. Pemerintah dan para pemangku kepentingan mampu menemukan solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan dan tetap mendorong transisi energi,” tegasnya.
Dalam perkembangan terkait, Direktur Jenderal Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), Francesco La Camera, menegaskan bahwa rencana Amerika Serikat untuk menarik diri dari keanggotaan organisasi itu tidak akan mempengaruhi komitmen dukungan terhadap transisi energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia
Pernyataan itu disampaikan dalam media roundtable di sela Sidang Majelis Umum IRENA ke-16 di Abu Dhabi. La Camera menekankan, proses penarikan diri AS belum final dan belum ada dampak langsung yang terlihat terhadap kawasan mana pun, memberikan kepastian bahwa fokus pada pembangunan energi bersih di wilayah ini akan tetap berjalan.
Kombinasi antara inovasi teknologi, regulasi yang mendukung, dan komitmen stakeholder dalam negeri, ditambah dengan dukungan lembaga global, membentuk sebuah narasi optimistis.
Indonesia tidak hanya mencari jalan keluar dari keterbatasannya, tetapi sedang membentuk cetak biru transisi energi yang kontekstual dan berkelanjutan, dengan PLTS terapung Cirata sebagai mercusuar pertamanya.