Cerita Perang di Balik Kemilau Berlian Banjar

:


Oleh Fajar Wahyu Hermawan, Sabtu, 17 Oktober 2020 | 05:56 WIB - Redaktur: DT Waluyo - 1K


Jakarta, InfoPublik - Kabar baik datang dari pemerintah Belanda, Selasa (13/10/2020). Mereka berencana mengembalikan benda-benda rampasan yang selama ini disimpan di museum Rijksmuseum. Koleksi benda-benda bersejarah yang disimpan itu rencananya akan dikembalikan kepada pemilik sahnya.

Benda-benda koleksi museum itu ada hubungannya dengan sejarah kolonial kerajaan, yang berlangsung selama kurang lebih 300 tahun sejak pertengahan abad ke-17. Selama berkuasa, kekuasaan kolonialisme Belanda terpusat di Asia Tenggara dan wilayah Karibia.

Ada 4.000 lebih benda bersejarah koleksi museum itu. Salah satunya berlian 80 karat yang dirampas tentara Belanda dari Kesultanan Banjarmasin pada 1875.

Pengembalian berlian ini menyusul keris Diponegoro yang telah dikembalikan Belanda beberapa waktu lalu. Penyimpanan benda-benda ini, kata Kepala Sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders, "sebagai sesuatu yang salah secara historis.”

Keputusan Belanda mengembalikan benda hasil penjarahan itu sama seperti yang dilakukan pemerintah Jerman dan Prancis. Upaya pengembalian barang itu dimulai sejak terbit perjanjian prinsip-prinsip Washington pada 1998 yang memungkinkan barang-barang hasil rampasan Nazi selama Perang Dunia II diserahkan kembali ke keturunan etnis Yahudi.

Cerita Berlian Banjar
Berlian Banjarmasin ini dirampas Belanda dari Sultan Adam Al-Watsiq Billah yang berkuasa pada 1786-1857. Seyogyanya, berlian yang dirampas ini bakal diserahkan ke Raja Willem III sebagai hadiah. Namun Willem menolak karena biaya pengolahan berlian ini dianggap terlalu mahal. Karena ditolak, berlian ini akhirnya disimpan di gudang. Pada 1902, berlian ini kemudian diserahkan ke Rijksmuseum sebagai "milik pemerintahan kolonial".

Disimpan di museum, demikian BBCNewsIndonesia yang melakukan penelusuran menyebut, benda ini tak langsung dipajang namun masih disimpan di gudang. Baru pada 2013 berlian ini dipajang di museum. Saat dipajang berlian yang awalnya 80 karat ini menyusut menjadi 36 karat. Berlian itu berkuran 2,186 x 1,737 cm dengan tinggi 1,386 cm. Beratnya 7,65 gram.

Dalam keterangan yang ada di museum tertulis," Berlian ini adalah jarahan perang. Berlian ini dulu dimiliki oleh Panembahan Adam, Sultan Banjarmasin (Kalimantan)." Ada juga keterangan, 'The Banjarmasin Diamond', dengan angka tahun 1875.

Berlian ini dirampas setelah kematian sultan di mana saat itu Belanda ikut campur dalam suksesi kesultanan. Pada tahun 1859, tentara Belanda menguasai Banjarmasin dengan kekerasan dan menghapuskan kesultanan.

Benda itu awalnya dianggap milik Belanda. Namun belakangan benda itu baru diberi keterangan "hasil jarahan".

Belanda, dalam bukunya menyebut peristiwa perampasan berlian itu terjadi saat perang Banjarmasin. "Jadi di balik berlian indah yang berkilau ini ada cerita perang...saksi sejarah gelap...Di sisi lain penting pula untuk menekankan apa artinya bagi Sultan Banjarmasin, tempat asal berlian ini," kata kurator Rijksmuseum, Harm Steven seperti dilansir BBCIndonesia.com.

Karena hasil jarahan, kata sejarawan Belanda, Caroline Drieenhuizen, "tidak tepat berlian ini ada di museum di sini. Saya rasa harus dikembalikan."

Sultan Banjar H. Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah menyambut gembira rencana pengembalian benda milik kerajaan itu. Ia berharap jika nanti dikembalikan, berlian itu dikembalikan ke daerah asalnya, bukan ke pemerintah Indonesia. "Karena berlian itu milik kerajaan, bukan milik pemerintah Indonesia," katanya. (Berlian Banjarmasin yang dipajang Rijksmuseum, Balanda. Foto: dokumentasi Rijksmuseum)