Siaran Pers Kementerian Komdigi
Jumat, 16 Oktober 2026
tentang
Dari CSR ke Layanan Publik, Wamen Angga Raka Prabowo Lihat Peluang Perluasan Model Kolaborasi untuk MBG
Pemanfaatan teknologi digital dan dana tanggung jawab sosial perusahaan membuka peluang kolaborasi baru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo meninjau program MBG yang dijalankan Grab dan OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, dengan layanan yang telah menjangkau sekitar 5.000 siswa di 12 kabupaten berdasarkan keterangan perwakilan perusahaan.
Angga Raka Prabowo pun melihat langsung dalam peninjauan yang berlangsung di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, Kamis (15/10/2026), bagaimana pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung rangkaian layanan, mulai dari pemesanan menu oleh sekolah, pengiriman makanan melalui mitra, hingga pelaporan apabila ditemukan kekurangan dalam penyajian.
Angga Raka Prabowo menilai model kolaborasi tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah untuk mengembangkan pelaksanaan MBG, khususnya melalui pemanfaatan teknologi yang telah digunakan sektor swasta. Iya yakin pengalaman perusahaan dalam mengelola layanan digital berpotensi dipelajari untuk mendukung pelaksanaan program dengan jangkauan lebih luas.
“Dari sisi teknologi, mungkin apa yang ada nanti bisa kita adopsi di teman-teman BGN. Tentunya dari sisi monitoring, dari sisi penyediaan makanan, teknologi-teknologi yang bisa nantinya kita adopsi. Ini kan untuk kebaikan semua,” kata Angga.
Ia menjelaskan, keterlibatan Grab dan OVO memperlihatkan bahwa program prioritas pemerintah dapat didukung melalui partisipasi perusahaan dan yayasan yang memiliki kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Dukungan tersebut tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga pemanfaatan infrastruktur digital dan jaringan mitra yang dimiliki perusahaan.
“Ini adalah bukti sinergi bahwa program prioritas pemerintah tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi teman-teman yang berusaha di Indonesia, perusahaan-perusahaan atau yayasan-yayasan yang memiliki kepedulian juga paham bahwa pentingnya program ini,” ucap Angga.
Menurut Angga Raka Prabowo, peluang perluasan kolaborasi dapat ditindaklanjuti dengan mempelajari praktik yang telah berjalan, termasuk sistem pemesanan, distribusi, dan pemantauan layanan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengidentifikasi teknologi yang relevan bagi penguatan pelaksanaan MBG.
Dalam operasionalnya, program yang ditinjau Angga Raka Prabowo memanfaatkan aplikasi dari Grab untuk memungkinkan sekolah memesan menu makanan hingga satu minggu ke depan. Pengiriman makanan melibatkan mitra Grab, sedangkan mekanisme pelaporan digital memungkinkan pihak terkait menyampaikan apabila terdapat kekurangan dalam menu atau penyajian.
Sistem tersebut menunjukkan salah satu bentuk pemanfaatan teknologi untuk menghubungkan kebutuhan sekolah dengan penyedia makanan. Integrasi proses pemesanan, pengiriman, dan pelaporan juga memberikan gambaran mengenai bagaimana layanan berbasis digital dapat mendukung koordinasi antarpihak dalam pelaksanaan program sosial.
Grab dan OVO menjalankan program MBG tersebut menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), bukan pendanaan pemerintah. Program dilaksanakan bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa dengan melibatkan pelaku usaha kuliner di sekitar sekolah sebagai mitra penyedia makanan.
Saat ini, program tersebut telah menjangkau sekitar 5.000 murid di 12 kabupaten/kota dengan melibatkan sekitar 40 mitra usaha. Mayoritas sekolah penerima manfaat merupakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, meskipun program juga menjangkau sekolah lainnya.
Keterlibatan mitra lokal menjadi bagian penting dalam model pelaksanaan tersebut. Di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, misalnya, satu mitra usaha menyiapkan sekitar 280 porsi makanan setiap hari. Skema ini menghubungkan dukungan CSR perusahaan dengan kapasitas pelaku usaha setempat untuk menyediakan makanan bagi para siswa.
Selain memperhatikan mekanisme distribusi, penyelenggara juga mengikuti standar yang ditetapkan BGN terkait kandungan gizi, kebersihan, dan kualitas makanan. Grab dan OVO turut bekerja sama dengan dinas kesehatan serta ahli gizi, sementara mitra usaha yang terlibat dalam penyediaan makanan telah memperoleh sertifikasi sesuai keterangan pihak perusahaan.
Melalui peninjauan tersebut, Kemkomdigi melihat peluang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perusahaan teknologi, yayasan, dan pelaku usaha dalam mendukung program prioritas nasional. Pengalaman pelaksanaan MBG melalui pendanaan CSR dan dukungan teknologi digital dapat menjadi bahan pembelajaran untuk menilai bentuk kolaborasi yang sesuai dengan kebutuhan layanan publik dan memungkinkan perluasan manfaat bagi masyarakat.