Sumenep, InfoPublik – Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memiliki potensi ekonomi yang bertumpu pada sektor garam dan pertanian. Pola kerja masyarakat yang mengikuti pergantian musim menjadi ciri khas desa yang juga menyimpan peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelestarian seni budaya lokal.
Kepala Desa Nambakor Ahmad Mulyadi mengatakan, sebagian besar warga bekerja sebagai petani dengan jenis pekerjaan yang menyesuaikan kondisi cuaca. Saat kemarau, masyarakat menggarap tambak garam, sedangkan pada musim penghujan mereka beralih ke pertanian tanaman pangan, seperti padi.
“Masyarakat biasanya memang bekerja sesuai musim, kebetulan dengan dua musim berbeda. Pada musim kemarau sebagai petani garam dan musim penghujan bertani tanaman dengan sumber daya alam yang ada, seperti padi maupun tanaman pertanian lainnya,” ujar Ahmad saat ditemui Media Center, Kamis (29/10/2026).
Kondisi geografis Nambakor yang didominasi tambak dan lahan garam turut membentuk pola ekonomi masyarakat. Dengan wilayah yang berada di dataran rendah sekitar satu meter di atas permukaan laut, aktivitas warga masih sangat dipengaruhi pergantian musim.
Ahmad menjelaskan, lahan garam yang digarap warga tidak seluruhnya berstatus milik masyarakat setempat. Sebagian merupakan lahan milik PT Garam, tanah pecaton dari desa lain, serta lahan milik pribadi warga di luar Desa Nambakor. Masyarakat setempat mengelola lahan tersebut melalui sistem bagi hasil maupun sewa.
Di luar sektor garam dan pertanian, pengembangan usaha rumahan menjadi peluang untuk memperluas sumber penghasilan warga. Salah satunya adalah produksi garam halus yang dikerjakan secara mandiri dalam skala industri rumah tangga.
Menurut Ahmad, kegiatan tersebut telah berjalan, tetapi masih membutuhkan dukungan peningkatan keterampilan dan pengetahuan agar proses produksi dapat berkembang lebih baik.
“Potensi UMKM juga berjalan dengan baik. Hanya saja memang perlu didukung pelatihan dengan keilmuan yang baik, karena ada yang secara otodidak memproduksi garam halus meskipun masih secara home industri,” jelasnya.
Pelatihan produksi, pengolahan, dan pengembangan usaha dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat nilai tambah komoditas lokal. Dengan peningkatan kapasitas pelaku usaha, garam tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi produk olahan dengan kualitas dan daya saing yang lebih baik.
Potensi Nambakor juga ditopang kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang masih aktif. Kegiatan keagamaan, seperti pengajian ibu-ibu, serta kesenian tradisional ludruk terus berlangsung dan menjadi bagian dari kehidupan warga.
“Keragaman sosial dan seni budaya juga tumbuh sejak lama. Seperti pengajian ibu-ibu, kesenian ludruk dan lainnya, itu masih berjalan,” kata Ahmad.
Sementara itu, dari sisi geologi, wilayah Kecamatan Saronggi, termasuk Desa Nambakor, berada dalam Formasi Madura yang disebut memiliki potensi batuan fosfat dengan luasan mencapai 3.073 hektare. Potensi tersebut dapat menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji lebih lanjut untuk mendukung pengembangan sektor pertanian.
Ke depan, penguatan ekonomi Desa Nambakor dapat diarahkan pada pengelolaan potensi garam dan pertanian secara berkelanjutan, peningkatan kapasitas UMKM, serta pemeliharaan seni budaya lokal. Pengembangan itu perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan masyarakat, dan kajian teknis agar sumber daya yang tersedia dapat memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi warga.
(Ren/Fer)